:-) or "Apa Katamu tentang Kataku?" by Wawan Yulianto

:-) wawan—eko—yulianto © 2008... 1 daftar isi.... 1. 2. DESA PARA DUKUN 3. HAJI 4. D BILIK MESRA IBERIKANNYA AIR KEHIDUPAN, LEBIH DARI SETETES 5. “JANGAN BU YAH!” KATA IBU KOS 6. 7. K ECELAKAA N 8. S (MANTAN) SUPERKAYA 11. ONE WORKING DAY 10. IN THE LIFE OF A HIGH OFFICIAL 9. IBUKNYA IZRAIL NEGERI KITA BELUM MERDEKA wawan—eko—yulianto © 2008... 2 DESA PARA DUKUN Dan saya pun seperti banyak orang yang berasal dari kampung saya, hanya bisa melihat para dukun itu hidup berbahagia di padepokan-padepokan mereka yang awalnya adalah kampung kami. Kami tidak sadar bagaimana itu terjadi. Tapi, yang jelas beginilah keadaan kami saat ini. Saat itu, beberapa bulan yang lalu, kami tiba-tiba disadarkan bahwa kami hidup di puncak gunung. Padahal, kami tidak melihat adanya gundukan. Hanya saja, ada lumpur yang tiba-tiba menyembur dari sebuah celah di tengah sawah, sekitar satu kilo dari desa kami. Kami mengira itu karena aktivitas pengeboran minyak yang sangat dekat dengan celah tersebut. Tapi tidak, kata para ahli, itu gunung yang berisi lumpur. Kami pun mulai menyalahkan nenek moyang kami yang tidak pintar memilih tempat tinggal buat anak cucunya. Gunung yang sama sekali tidak punya gundukan ini hanya menyemburkan lumpur hangat yang terus-menerus, tak dapat dihentikan. Kami sebenarnya gusar, tapi tak tahu harus berbuat apa. Setelah berbagai cara gagal, warga beberapa desa yang paling dekat dengan pusat semburan harus rela melepaskan tanah dan rumah mereka. Setelah mengungsi, mereka pun melihat sedikit demi sedikit rumah mereka terkubur lumpur. Sementara sumber lumpur terus memancar semakin besar. Terakhir, dibuatlah tanggul-tanggul untuk menahan lumpur itu. Maka terciptalah waduk yang menelan sejumlah desa. Dan desa saya adalah desa yang kebetulan tidak terendam karena tanggul penahan itu berada tepat di sebelah desa saya. Desa saya adalah desa yang bersebelahan dengan lumpur. Bagaimanapun, wawan—eko—yulianto © 2008... 3 lumpur yang aromanya seperti campuran aroma belerang dan limbah pabrik gula itu lumayan mengerikan bagi kami. Namun lumpur masih memancar dan bukan tidak mungkin desa saya ikut terendam. Tapi, untungnya, para ahli mengusahakan agar lumpur itu bisa diarahkan ke sungai dan dibuang ke laut. Kami pun bisa bernafas lega, tinggal menunggu lumpur yang sudah menggenangi beberapa desa itu mengering dan kami bisa hidup tenteram kembali. Ternyata, lumpur yang terlalu kental itu terlalu merepotkan untuk disedot pompa dan dibuang ke laut. Cara ini pun tidak bisa dipakai. Belum lagi ketika para ahli bilang bahwa kubangan lumpur raksasa itu kini mulai berbahaya, karena mendekati musim hujan. Sebab, jika hujan, kubangan lumpur tidak akan mampu menahannya dan akan meluberlah lumpur itu kemana-mana. Dampaknya akan terasa hingga berkilo-kilo meter. Sumber lumpur itu pun sudah semakin tak karuan besarnya. Maka, untuk pertama kalinya warga daerah kami yang panas itu takut hujan. Entah bagaimana caranya, kami mencoba mencegah datangnya hujan. Tanpa ada yang meminta, puluhan dukun datang dengan pakaian hitam-hitam. Mereka tak hanya datang sendirian, mereka membawa serta sebuah truk berisi hewan-hewan ternak mulai unggas hingga kerbau. Dengan bacaan mantra-mantra dan segala jampi, mereka menaiki tanggul yang tingginya sudah melebihi atap rumah kami. Truk menunggu di bawah tanggul. Seusai membaca mantra dan bermain-main dupa, mereka pun melempar hewan-hewan ternak itu satu per satu. Kami dengar mereka berkata, “Wahai lobang yang melahirkan Bromo, kenyangkanlah dirimu dengan makanan ini. Lalu tidurlah hingga entah.” Dan seorang warga yang kebetulan menyaksikan acara tersebut segera mendekat dan menyatakan ingin berunding. Dia adalah Wak Karimun yang memiliki sejumlah pabrik krupuk, beberapa petak tanah, wawan—eko—yulianto © 2008... 4 dan beberapa rumah di desa ini. Sepertinya, dia adalah warga terkaya di desa saya. Wak Karimun ini ternyata meminta mereka untuk berusaha menahan hujan. Maka, sang dukun mengiyakan. Sebelum pulang, mereka berjanji akan mencoba mengatasinya. Pada awalnya si dukun bekerja dari tempat tinggalnya di sebuah kawasan pegunungan di suatu tempat. Namun, ketika di beberapa daerah hujan perlahan-lahan datang, si dukun mulai resah. Dia butuh usaha dan konsentrasi lebih besar. Salah satu caranya adalah dengan semakin mendekati titik permasalahan. Maka, dengan sebuah persetujuan, Wak Karimun menyediakan salah satu rumahnya yang ada di ujung desa untuk dijadikan tempat yang khusus bagi dukun tersebut. Dia tidak datang sendirian. Beberapa dukun mengikut di belakangnya. Hari-hari pertama itu kampung kami selalu wangi. Wangi dupa yng selalu membius. Datangnya sudah pasti, yakni dari rumah para dukun di ujung desa itu. Tapi benar juga, ketika kecamatan-kecamatan lain di kabupaten ini sudah diguyur hujan, kami tetap kering. Namun, menjengkelkan juga rasanya mencium dua jenis bau yang saling berlawanan setiap hari. Seringkali kami mencium bau busuk dari lumpur tersebut, namun di saat-saat lain kami mencium aroma dupa yang mengerikan itu. Meski hujan belum datang, sebenarnhya kami sudah mulai resah. Sebab air lumpur sudah merembes dari bawah tangul dan mulai membasahi jalanan kampung. Di lain pihak, ternyata semakin banyak saja penghuni rumah pusat kegiatan para dukun itu. Bahkan, sekarang selalu saja ada orang-orang yang keluar dari rumah tersebut dalam keadaan tidak sadar dan bergerak-gerak tak karuan menjalankan ritual mereka. Di beberapa sudut desa saya melihat sapu lidi diberdirikan terbalik dan di ujung-ujungnya tertancap bawang putih, bawah merah, cabe rawit dan wawan—eko—yulianto © 2008... 5 sejumlah bumbu-bumbu dapur lainnya. Hampir di semua tikungan terdapat benda itu. Suatu kali Wak Karimun datang ke rumah salah satu tetangga dekatku. Dia ingin menyewa rumahnya untuk tujuan perpawangan hujan. Ketika ditanya mengapa tidak menggunakan rumah-rumahnya sendiri yang banyak itu, Wak Karimun menjawab bahwa ternyata rumah-rumahnya yang lain juga sudah ditempati para dukun. Maka, tetangga dekatku ini pun mengiyakan, karena sejak dua bulan lalu, rumahnya yang dikontrakkan itu telah ditinggalkan pengontraknya. Si pengontrak takut ada bahaya dengan lumpur panas itu. “Dukun-dukun yang baru datang ini bilang tidak butuh bayaran. Mereka hanya ingin membantu dan tertantang ingin bisa berunding dengan alam agar hujan tidak jadi datang. Kita hanya perlu menyediakan tempat tinggal buat mereka,” kata Wak Karimun. Kami tetap berharap semoga hujan akan sedikit tertunda. Maka aroma dupa itu pun semakin memenuhi desa. Semua orang mulai merasa kesal dengan aroma dupa yang sangat harum tapi mengerikan itu. Sayang, Wak Karimun terlalu bisa membujuk kepala desa. “Pak, anda boleh tidak percaya. Tapi toh sejauh ini tidak ada upaya menahan hujan atau menghentikan lumpur yang berhasil. Kalau keberatannya soal bau, saya mohon, cuma itu yang bisa kita lakukan.” Tidak ada yang bisa menolaknya pun menghentikan usaha para dukun itu. Bahkan, saya dan tetangga-tetangga sebelah baru tahu bahwa jumlah mereka sudah banyak. Kami tak tahu kapan dukundukun tersebut mulai datang. Yang jelas kian hari kian banyak kami melihat mereka melakukan ritual di jalan-jalan kampung dengan membawa anglo dupa menyebar bunga tujuh warna. Aroma dupa berperang dengan bau lumpur, tanpa ada yang mau mengalah. Air semakin banyak merembes ke desa-desa kami dan jalan-jalan pun kini menjadi basah. Penduduk yang sudah tak kuat menahan sebal segera memutuskan menyewa truk untuk mengangkut barang-barang wawan—eko—yulianto © 2008... 6 mereka. Satu per satu penduduk meninggalkan desa kami. Pepohonan pun mengering di setiap sudut desa. Hidup pun semakin sulit: Kami harus mengambil air ke kampung lain karena air bercampur belerang yang menggenangi kampung kami juga memaksa merembes dalam tanah dan mencemari air sumur kami. Seiring berkurangnya penduduk, berdatanganlah para dukun pada saat yang tidak kami ketahui. Begitu ada penduduk yang terlihat sudah mengusung barang-barang mereka, para dukun itu mendatangi dan memohon untuk bisa memakai rumah penduduk. Memang tak ada alasan untuk menolak. Apalagi saat ada kata, “Kami akan berusaha mempertahankan desa dari luapan lumpur akibat hujan. Kami berusaha sebisanya agar Saudara-saudara bisa kembali meninggali rumah ini.” Ditambah lagi, mereka menawarkan sejumlah uang sekedar terima kasih telah memberi mereka tempat berteduh. Dalam keadaan ini, tak ada seorang pun yang menolak uang. Setiap kali ada yang pergi, setiap kali pula kampung kami bertambah gelap. Para dukun yang meninggali rumah tersebut tidak pernah mau menyalakan lampu. Mereka lebih suka memadamkan lampu, karena konon hal itu membuat mereka lebih khusyuk. Saya ingin nyerocos ketika melihat mereka menari meliukliukkan tangan mereka dan berjalan mundur sambil membawa anglo dupa. Inilah yang menjengkelkan: hujan memang belum juga datang. Kaki kami selalu basah setiap berangkat dan pulang kantor. Tapi, di atas udara selalu kering dan bau selalu mencemaskan antara wangi dan bau lumpur yang berbatasan dengan desa kami itu. Setiap malam aroma lumpur yang sesekali berseling wangi itu mampir ke keluarga kami. Sungguh, tempat kerja menjadi tempat impian saya. Tak ada yang lebih bagi kami selain tempat ini. Segalanya lumayan bersih, segar, dan menentramkan. Kecuali ajakan teman-teman yang selalu wawan—eko—yulianto © 2008... 7 meminta saya segera pindah ke perumahan yang ada di belakang sekolah. Banyak yang bilang bahwa beberapa orang dari desa-desa korban lumpur, termasuk desa saya, datang dan menyatakan keinginan menyew rumah tersebut. Pak Kepala Sekolah tentunya tidak berkenan. Kalaupun rumah itu diperuntukkan bagi korban lumpur, pastilah itu untuk saya. Akhirnya, pemadaman listrik pun tiba. Pemerintah daerah meminta saya dan keluarga untuk bersabar. Kami bisa bersabar. Tapi bagi anak-anak dan istri saya, hidup bergelap-gelap dalam aroma dupa dan suasana yang semakin menyeramkan dengan dukun-dukun yang melakukan ritual setiap petang membuat kami tak tahan. Saya tidak pernah lepas dari mengingat bagaimana mereka meliuk-liukkan tangan dan berjalan mundur sambil membawa anglo dupa. Setelah semalam hidup berteman lampu tempel dan mendapati lobang hidung kami sekeluarga menghitam di pagi harinya, pagi-pagi sekali saya ke pasar untuk menyewa truk yang mau ke desa dan mengangkut barang-barang saya. Kepergian saya dari kampung diikuti beberapa orang. Tentu saja rumah saya segera disewa oleh seorang duku yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Dia ingin memberi saya sejumlah uang, tapi saya tidak mau sama sekali menerimanya. “Saya bisa minta ganti ke pemerintah, Pak.” Dia pun memberi saya sebungkus garam yang dia minta agar saya taburkan ke sayur yang dimasak istri saya selama beberapa hari ke depan. Demi kesabaran dan ketentraman. Saya sekarang sudah benar-benar lupa, dan tak ingin ingat, dimana saya taruh bungkusan itu. Beberapa hari meninggalkan kampung, saya masih rutin setiap hari kembali ke kampung saya itu bersama beberapa mantan tetangga. Kami berjalan menyusuri jalanan kampung dan melihat rumah kami yang tampak kumuh dan terasnya dipenuhi bunga-bunga wawan—eko—yulianto © 2008... 8 yang mengering. Semuanya ditambah halaman yang selalu becek, kotoran bunga-bunga dan plastik bercecerah di mana-mana, pohonpohon meranggas kecoklatan, bangkai-bangkai ayam yang ditinggalkan pemiliknya dan terlihat tak terurus, pohon-pohon pisang yang roboh, dan bau lumpur yang berhembus terus. Andaikan ada hujan, pasti semuanya akan bersih. Semuanya pasti segar. Semuanya pasti tersiram dan mennggalkan kesegaran. Tapi, bagaimana dengan lumpur? Bukan hujan akan meluapkan lumpur dan menenggelamkan kampung kami. Ada keinginan melihat para dukun itu segera mengakui ketidakmampuan mereka melawan alam dan pemiliknya. Kami cuma tidak kuasa melihat kampung kami menjadi begitu kotor dan wingit. Dengan sembunyi-sembunyi, saya dan para penduduk desa lainnya mencari tempat yang tepat untuk berdoa serta mengadakan sholat minta hujan. Semoga air hujan turun untuk mengencerkan lumpur yang mengeras, lalu melancarkan pembuangan lumpur ini ke sungai. Yang paling penting, hujan membebaskan kami dari dosa yang menempel di dinding-dinding rumah kami. Kami ingin aroma tanah sebelum hujan segera menghalau mimpi buruk karena aroma yang terus menerus menyerang kami. Tapi, tiba-tiba kami sholat dengan gerakan-gerakan para dukun itu. Kami menyusuri jalan mencari tempat berteduh dan mengukur jalan. Tangan kami benar-benar menari meliuk-liuk. Dan kami berjalan mundur. Dan tanpa sadar dapat dari mana tiba-tiba di tangan kami masing-masing sudah menggantung anglo dupa. Dan hujan pun turun, tetapi dari air mata kami sendiri. wawan—eko—yulianto © 2008... 9 BILIK MESRA Aku ingin menulis sebuah cerpen tentang banjir lumpur yang melahap pemukiman itu. Bukan menulis esai. Tapi bagaimana bisa aku menulis cerpen jika aku ingin marah-marah saat ingat betapa beratnya para pengungsi yang kegerahan setiap siang seperti ini. Aku baru saja datang dari kamp pengungsian mereka. Aku melihat seseorang menangisi rumahnya yang sedikit demi sedikit ditelan lumpur hingga tinggal atap. Bayangkan, mereka melihat sendiri rumah mereka sedikit demi sedikit terendam. Begitulah, aku terlalu ingin meneriakkan kemarahan tentang tingkah para pengusaha yang menyalahi aturan pengeboran dan menyebabkan menyemburnya lumpur panas yang tiada henti itu. Biasanya, jika aku terlalu marah dan ingin menyuarakan sesuatu, tulisanku akan jadi esai. Tapi, kali ini tidak boleh: Aku ingin menulis cerpen! Karena itulah aku pergi ke SMA tempatku sekolah sekitar delapan tahun yang lalu. Udara memang gerah dan memanggang rambut, aku tahu. Tapi segala kenangan yang ditimbulkan setiap sudut gedung sekolah itu pasti akan melenakan hatiku, merontokkan marahku, membelai-belai hatiku, dan aku akan bisa menulis sebuah cerpen. Kuharap begitu. Kita lihat saja. Aku memasuki gerbang sekolah yang dijaga seorang satpam. Aku tidak kenal satpam ini. Dia juga tidak kenal aku. wawan—eko—yulianto © 2008... 10 “Mau kemana, Mas?” tanyanya. “Hari Minggu pegawainya tidak ada.” “Mau santai-santai, Pak,” kataku. “Saya cari tempat yang tenang buat nulis.” “Nulis apa?” “Cerpen, Pak,” kataku, sambil kuperhatikan matanya yang tak menunjukkan berkurangnya kecurigaan. “Saya tinggal sekitar sini dan lulusan SMA ini, Pak.” Selanjutnya dia membiarkanku meneruskan langkah. Saat berjalan, aku merasa dia menembakku dengan sorot matanya. Aku benar-benar tak peduli. Toh sekolah ini milik negara dan aku pun pernah menyumbang sekian rupiah untuk pembangunan salah satu gedungnya. Aku melewati celah antara ruang kantor dan ruang perpustakaan. Kedua bangunan ini tetap seperti ketika delapan tahun lalu aku meninggalkannya. Selepas celah, aku sudah bisa melihat hampir seluruh bagian dalam sekolah. Sudah banyak perubahan yang dibuat di sini. Ada ruang-ruang kelas baru di ujung selatan sana. Antara kelompok-kelompok kelas kini dihubungkan koridor beratap yang indah dengan tiang-tiang penyangga yang bagus. Sungguh modern. Nyaris seperti sekolah-sekolah berskala internasional dalam liputan-liputan berita. Semua cat tampak masih baru. Mungkin wawan—eko—yulianto © 2008... 11 mempersiapkan diri untuk 17 Agustus tahun ini. Sayang masih belum ada umbul-umbul sama sekali. Setelah puas mengagumi perubahannya, aku memilih untuk tidak melanjutkan proyekku. Aku menoleh sekeliling mencari tempat yang bagus untuk menulis. Di tepi kanan perpustakaan yang masih kosong terdapat sebuah bangku dan meja. Mejanya agak rusak, tapi bangkunya tampak masih bisa diduduki. Kudekati bangku-meja itu dan mencoba mendudukinya. Masih lumayan nyaman. Bagian ini langsung menghadap lahan kosong ditumbuhi alang-alang. Angin berhembus keras, tapi udara tetap panas. Aku keluarkan buku notes kecilku dari saku belakang celana. Ya, meski panas, inilah tempat yang tepat untuk bisa merenungkan segala yang kulihat di tempat pengungsian para korban banjir lumpur itu. Lalu aku akan menuliskannya dalam bentuk cerpen: harus ada cerita yang bisa menjaga minat dan menggugah pembaca sambil, namun juga harus tersaji fakta yang mencerahkan. Cerpen itu menghibur sekaligus memintarkan, begitu kata teori. Ah, lagi-lagi teringat teori! Terang saja aku tidak pernah berhasil menulis cerpen yang bagus sejak kuliah sampai sekarang. Teori terlalu menghantuiku. Aku mencoba berkonsentrasi dan mengingat-ingat: ada bau menyengat seperti limbah bahkan dari jarak satu kilo dari lokasi banjir lumpur, ada sopir-sopir angkutan yang berkelahi karena semakin berkurangnya pelanggan, ada perkelahian antar beberapa lelaki wawan—eko—yulianto © 2008... 12 karena otak yang panas di kamp pengungsian, ada rumah-rumah yang tinggal terlihat atapnya karena sudah termakan lumpur, dan bahkan ada sebuah “bilik mesra” yang dikhususkan bagi para pasangan pengungsi yang ingin menyalurkan hasrat seksual mereka—meskipun konon jarang dipakai, karena para pengungsi malu mengumumkan kepada tetangga kalau mereka sedang saling menafkahi. Tapi, ah, aku tidak akan menyertakan urusan “bilik mesra” ini ke dalam cerpenku. Aku masih belum berani. Ah, mana yang akan kutuliskan dulu? Oh ya, tulis saja begini. Aku...— Belum lagi aku menyelesaikan kalimat pertama, suara keras sepeda motor terdengar mendekat. Motor itu dari arah belakang, melewati koridor yang indah, lalu berhenti di depan berpustakaan. Siapa dia, berani-beraninya membawa sepeda motor masuk ke kompleks-kompleks kelas, melewati koridor yang semestinya untuk berjalan, dan memarkir sepeda motor di teras perpustakaan. Aku lebih mundur ke belakang agar tidak terlihat. Sebelum pengendara motor itu turun, aku tadi sudah melihat mereka: seorang lelaki dan seorang perempuan. Begitu turun, mereka menoleh melihat ke arah lapangan—mereka membelakangiku. Aku mencoba mengintip. Kulihat lelaki itu berbicara: “Mau duduk-duduk di sana terus?” wawan—eko—yulianto © 2008... 13 “Ke kelas yang itu lagi?” kata si perempuan menunjuk ruangan kelas baru di ujung selatan. Mereka berdua segera berjalan. Tangan si lelaki di punggung bawah si perempuan, nyaris menyentuh pantat. Sambil berjalan, si lelaki menoleh ke kanan dan kiri, dan mengatakan sesuatu kepada si perempuan. Sayang, aku tidak bisa mendengar kata-kata mereka. Entah, tiba-tiba saja aku tak lagi berminat untuk melanjutkan perenungan dan hasratku menulis cerpen. Aku segera mengendapendap di tepian gedung sambil tetap bisa mengintai laki-laki yang tangannya mulai meraba-raba dengan cabulnya pada bagian belakang tubuh si perempuan. Dasar, yang namanya maksiat sekarang sudah menjarah gedung sekolah. Kupikir yang seperti ini hanya terjadi di gedung-gedung kampus yang kurang penerangan pada malam hari. Kini, bahkan di terang hari, bahkan di sebuah SMA Negeri, hal itu bisa terjadi. Sementara kuikuti dari bagian-bagian aman, si lelaki tetap seperti merasa diikuti seseorang. Terkadang, si lelaki berlagak seolaholah meneduhi wajah si perempuan dari sengatan matahari dengan tangannya, terkadang dia berlagak mengipasi wajah si perempuan dengan tangannya. Sementara aku mengendap-endap dari balik tiang koridor satu ke tiang koridor lainnya, seperti detektif. Pasangan itu menuju sebuah kelas di ujung selatan. Itu kelas baru. Seingatku, di belakang kelas ujung selatan itu terdapat sebuah wawan—eko—yulianto © 2008... 14 warung. Pada hari Minggu seperti ini pasti kosong. Dan ada lincak bambu yang bisa dipakai duduk-duduk, atau apa-apa. Mungkin mereka akan ke sana, berpacaran ditemani semilir angin tersaring rumpun bambu. Ternyata tidak. Di depan kelas ujung selatan, mereka berhenti. Si lelaki mengeluarkan sesuatu dari saku belakangnya yang tebal. Sekumpulan kunci. Hanya seorang penjaga sekolah yang memiliki kunci sebanyak itu di sebuah sekolah. Wah, lagi-lagi aku tidak kenal pegawai. Ternyata delapan tahun itu cukup lama. Sudah ada pergantian satpam dan penjaga sekolah. Si lelaki membuka pintu kelas ujung selatan itu dan menoleh ke sekelilingnya untuk mengamati. Lagi-lagi aku bersembunyi agar tidak terlihat. Ternyata, pikirku, sekolah ini telah salah memilih karyawan baru. Pertama, satpam yang berwajah galak. Kedua, penjaga sekolah yang cabul. Siapa saja bisa mengira dia ke kelas ujung selatan itu untuk melakukan apa. Setelah melihat sekeliling dan sepertinya tidak mendapati apa-apa yang mencurigakan, si penjaga sekolah mengajak perempuannya masuk ke kelas itu dan segera menutupnya. Dia membiarkan kuncinya menggantung di luar. Aku segera bangkit dari tempatku sembunyi dan melompat. Meaong! Tiba-tiba ada seekor kucing yang ada di depan kakiku. Aku kaget setengah mati saat kudengar suara itu dan kurasakan bulu-bulu wawan—eko—yulianto © 2008... 15 halusnya di punggung kakiku. Refleks memerintahkan agar aku segera kembali ke tempatku sembunyi. Jantungku berpacu. Kulihat kucing hitam yang kusandung tadi berlari menyeberang lapangan yang rumputnya mulai mengering. Semoga saja teriakan kucing itu tidak cukup keras untuk didengar penjaga sekolah cabul itu. Kuintip kembali kelas di ujung selatan itu. Sepertinya si cabul tidak tahu. Aku mengendap-endap lagi menuju kelas di ujung selatan. Kali ini aku lebih hati-hati dan sesekali melihat ke bawah. Aku ingat, dulu di lapangan dimana sekarang ada kelas ujung selatan itu, seorang siswa kejang-kejang karena epilepsinya kumat. Aku ingat, aku ikut melihatnya saat kejang-kejangnya selesai, mulutnya berbusa dan ada sedikit darah, jari Pak Guru olahraga yang diganjalkan diantara giginya tergigit. Sudahlah, mengapa tiba-tiba aku ingat lagi kejadian mengerikan itu. Sudah lama aku tidak pernah teringat kejadian itu lagi. Aku tetap mengendap-endap melewati tepi sebuah gedung lagi. Jantungku masih berpacu. Meskipun sekarang sudah tidak sekencang tadi. Pikiranku terasa tegang, sampai-sampai kurasa ada urat di bagian belakang kepalaku yang agak mengeras. Aku sudah berada di depan kelas ujung selatan. Aku mendekat di jendela yang terbuat kaca nakonya agak terbuka. Sambil membungkuk agar tidak terlihat, kutajamkan pendengaran. Aku mencoba sekian lama membedakan desir angin di rumpun bambu belakang sekolah wawan—eko—yulianto © 2008... 16 dengan desah nafas dari dalam ruang kelas. Ternyata, diantara desahdesah nafas lirih itu ada suara si lelaki: “Kalau kita sudah di rumah nanti... kita bisa melakukannya setiap hari...” “Mas...” balas si perempuan. “Sungguh...” Sialan! Ternyata penjaga sekolah itu benar-benar sedang bertindak cabul di sini. Benar-benar tak bisa dibiarkan. Aku segera memutuskan untuk memberitahu satpam tentang prilaku cabul si penjaga sekolah. Aku sudah akan pergi, tetapi tiba-tiba aku memutuskan untuk bertindak lebih. Kunci yang menggantung di luar pintu itu harus dipakai. Mereka harus tertangkap basah. Aku kunci pintu itu perlahan-lahan agar tidak menimbulkan terlalu banyak suara. Saat melakukan itu, kudengar lagi suara-suara erotis itu: “Dasar... pabrik sialan...” “Lum... lumpur sialan...” Aku segera teringat cerpen yang ingin kutuliskan tadi. Ada sebuah bilik khusus di tempat pengungsian itu yang dikhususkan untuk pasangan yang ingin menyalurkan hasrat seksualnya. Aku tadi belum terpikir untuk menuliskan tentang itu. Apa mungkin mereka ini salah satu pengungsi itu? Tanganku yang masih memegang kunci itu tak jadi kulepaskan. Bahkan, aku langsung mencoba pelan-pelan mengembalikan kunci itu agar terbuka lagi. Kali ini, aku tetap tak ingin wawan—eko—yulianto © 2008... 17 menimbulkan suara. Ah, aku telah salah sangka. Tetap, sambil mengendap-endap aku mencoba meninggalkan pintu itu dengan mundur. Belum lagi aku membalik badan, ada tangan yang memegang pundakku, menghentikan langkahku: “Nulis apa, Mas?” Ternyata pak satpam sudah berdiri di belakangku. Tangan kanannya membawa tongkat pemukul hitam mengkilap! “Mau ngintip, Mas?” tanyanya lebih kasar. “Kalau mau ngintip lagi, nanti sore juga ada, Mas. Giliran saya nanti!” “Saya tadi mau—” “Apa, he??” kali ini dia sudah mencengkeram kerah kaosku. “Mau pentungan?!” “Tunggu du—” “Mas!” teriaknya ke arah ruang kelas. “Kalau sudah selesai kamu keluar dulu, ini ada pengintip yang bisa digarap jadi lemper!!” “—” * * * Nah! Sepertinya cerita ini sudah mencukupi, ada aksi dan juga ketegangan. Aku tinggal memoles logikanya di rumah, biar logis dan memiliki nuansa. Tiba-tiba, aku merasa angin sudah kehilangan gerahnya. Langit juga mulai tampak sejuk dengan warna mulai agak kuning. Sepertinya sebentar lagi ashar akan turun. Akhirnya, bisa juga wawan—eko—yulianto © 2008... 18 menulis cerita kecil tentang banjir lumpur. Semoga salah satu editor koran nasional yang selalu suntuk membaca puluhan cerpen yang datang ke mejanya bisa membedakan cerpenku ini dari cerpen-cerpen para penulis tangguh lainnya. Tidak seperti cerpen-cerpenku sebelumnya yang sudah ditolak mentah-mentah. Melihat langit yang sudah mulai sore itu, aku memutuskan pulang. Aku ingin ngobrol sedikit banyak dengan orang tuaku. Besok aku sudah harus kembali ke kota tempatku kerja. Aku keluar tetap dengan melewati celah antara perpustakaan dan kantor guru. Aku ketemu seseorang yang terlihat baru saja selesai memasang umbulumbul. Dia menyapaku saat mencoba menstrater sepeda motornya. Aku merasa harus berterima kasih kepada Honda tuanya itu, derunya saat baru datang tadi menghadirkan ide untuk cerpenku. Aku terus berjalan menuju pos satpam dan si pemasang umbulumbul mendahuluiku sambil menegur. Di pintu gerbang dia meneriakkan salam perpisahan kepada pak satpam. Saat aku sampai di pos satpam, kusempatkan juga berhenti dulu. “Bagaimana, Mas?” sapa pak satpam, kali ini dia sungguh ramah. “Sudah selesai menulisnya?” “Suasananya enak, Pak,” kataku, “tulisan saya bisa selesai.” “Maaf, lho,” katanya, “tadi saya agak curiga. Biasa, Mas, jaman seperti ini, sulit percaya sama orang.” wawan—eko—yulianto © 2008... 19 Kemudian kami berbicara sebentar sekedar mengabsen guruguru yang masih ada yang sudah pindah, atau meninggal. Ketika basabasi itu kurasa sudah cukup, aku pamit dan mulai berjalan. Belum genap selangkah aku berjalan ada suara sepeda motor mendekat. Kulihat sepeda motor itu seperti akan berhenti di pos satpam, penumpangnya dua. Sepeda motor itu belum sampai mendekati pos satpam saat pak satpam berteriak: “Langsung saja!” kata pak satpam sambil mengayunkan tangannya mengarah ke dalam kompleks sekolah. Laki-laki pengedara sepeda motor hanya meneriakkan “oke!” sambil meneruskan laju sepeda motornya. Di belakangnya, tampak seorang perempuan memalingkan wajahnya, menghindari melihat aku dan pak satpam. Aku menoleh ke pak satpam. Tampangnya agak berubah, sepertinya Pak Satpam malu-malu dan menyembunyikan sesuatu. “Siapa itu, Pak?” tanyaku. “!!!” wawan—eko—yulianto © 2008... 20 HAJI (dipersembahkan kepada Haji Deddy Mizwar) “Pamanmu jadi mendaftar naik haji, Hib,” kata ibu kemarin pagi, ketika Sohib menelpon ibunya. Siapa saja akan menganggap kalimat itu biasa. Tapi bagi Sohib, kalimat itu tak akan bisa begitu saja hilang dari pikirannya. Terbukti, sampai malam ini telinga Sohib masih tetap dihantui ucapan itu. Bertahun lalu, ibu dan bapaknya sudah nyaris naik haji. Mereka sudah punya cadangan sepetak tanah yang sudah mereka siapkan untuk dijual. Begitu terjual, kata bapaknya, bapak dan ibu akan segera mendaftar naik haji. Selain tanah itu, bapak Sohib punya sepetak tanah persawahan yang rutin mereka tanami padi, jagung, cabe dan sebagainya secara bergantian. Dengan keuntungan dari persawahan kecil inilah mereka bisa membeli tanah yang kelak, menurut rencana, akan mereka jual untuk naik haji. Tapi, ternyata hidup berjalan tidak dengan rencana bapak Sohib. Tanah sepetak itu berhasil terjual, tetapi tidak untuk mendaftar naik haji. Tanah itu dijual untuk biaya pengobatan bapak Sohib yang baru kemudian terdeteksi menderita kelainan fungsi ginjal. Beliau harus dikamarkan selama berbulan-bulan di Rumah Sakit Umum dan terpaksa harus menjalani cuci darah berpuluh-puluh kali. Maka, tanah yang sepetak itupun harus dijual untuk menambal biaya pengobatan. Bahkan, setelah habis uang dari penjualan tanah itu, tanah persawahan itu pun harus dipindahtangankan ketika musim panen jagung sudah dekat, ketika sawah begitu kering dan butir-butir jagung kemerahan sudah terlihat dari kulit jagung yang sudah separuh dibuka, ketika persawahan sudah kering. Tidak, tidak seluruh tanah persawahan itu dijual. Ayahnya meminta agar disisakan seperempat dari tanah itu, untuk bekal hidup sehari-hari. wawan—eko—yulianto © 2008... 21 Ternyata, permintaan itu adalah wasiat terakhir bapak Sohib. Cuci darah yang sudah puluhan kali itu tidak bisa menyembuhkan: bapak Sohib meninggal. Bapak Sohib meninggal dengan membawa pergi tanah yang sudah disiapkannya untuk naik haji. Maka, diantara himpitan kesedihan ibunya, Sohib tahu bahwa ibunya masih memendam kekecewaan karena tidak berkesempatan bertawaf keliling Kabah, berziarah ke makam Rasulullah, mencium Hajar Aswat, dan sholat di Makom Ibrahim. Untungnya, Kyai Hikayat sempat berpesan kepada keluarga yang ditinggalkan, “Bapak kalian ini telah mengatakan kepada saya tentang niatnya naik haji dengan menjual sepetak tanahnya. Jika ternyata tanah itu terjual untuk pengobatannya tapi dia tetap dipanggil Gusti Allah, maka, insya allah, bapak kalian sudah mendapat kemuliaan seorang haji, meskipun tidak pernah benar-benar berangkat ke Mekkah.” Ucapan Kyai Hikayat itulah yang membuat emak bertahan ketika ditinggal bapak Sohib, dan juga ditinggal cita-citanya naik haji. Namun, sesekali keinginan untuk naik haji itu tetap saja muncul, terutama jika mendengar ada saudara yang berkesempatan naik haji atau ketika mengunjungi orang yang baru pulang haji. Sepertinya, bekas-bekas cita-cita itu kembali menguat di pikiran ibu Sohib. Padahal, kini, jangankan berangkat haji, membiayai hidup sehari-hari saja sudah begitu hati. Dan kini, bertahun setelah kematian ayahnya, ketika Sohib sudah tinggal di Malang menjalankan usaha warung bubur dan mie milik temannya dari Sunda, Sohib hanya bisa berjanji untuk sebisa mungkin mencarikan biaya agar ibunya bisa naik haji. Dia akan membantu ibunya, entah bagaimanapun caranya, entah kapanpun akan terwujud cita-cita itu. Maka, wajarlah Sohib gemetar dua hari ini sejak ucapan ibunya di telepon pagi kemarin. wawan—eko—yulianto © 2008... 22 beratnya, sampai-sampai Sohib bisa menyelesaikan pendidikannya di STM atas bantuan beberapa saudara yang berbaik * * * Sebenarnya, beban itu selalu Sohib rasakan tidak hanya ketika ibunya menyiratkan keinginan beliau untuk naik haji. Sohib tidak pernah tersenyum setiap kali dia mendapatkan bagian dari kerja kerasnya menjalankan usaha warung bubur dan mie itu. Dia tak pernah tersenyum ketika menyisihkan seribu atau dua ribu dari bagiannya itu untuk disimpan di salah satu sudut dompet yang paling rahasia, untuk kemudian ditukarkan jika jumlahnya sudah mencapai dua puluh ribu, dan kemudian dia simpan di sebuah amplop yang dia taruh dengan rapi di bawah tumpukan baju-bajunya. Dia selalu sadar, dialah satu-satunya anak lelaki di keluarganya, dialah yang paling bertanggung jawab untuk mengirimkan ibunya naik haji. Terkadang, dia mempertanyakan nasib. Dia heran bagaimana seorang perempuan tua yang sepanjang hidupnya bercita-cita untuk naik haji seperti ibunya itu tidak mendapatkan kesempatan sekali pun naik haji. Sementara, Haji Mizwar, seorang tetangga yang rumahnya tak jauh dari warung Sohib, bisa pergi ke Mekkah hampir setiap tahun. Begitu kata orang. Haji Mizwar seringkali ditunjuk sebagai Amirul Hajj, jadi dia bisa naik haji tanpa mengeluarkan biaya. Kalau dua hari ini dia merasa luar biasa terhantui kata-kata ibunya, itu gara-gara bulan Ramadhan. Dia tidak pernah menyalahkan Ramadhan. Sungguh, dia tidak pernah menyalahkannya. Dia malah berharap banyak darinya. Dia berharap banyak dari kemampuan Ramadhan membantu mengabulkan doa, mewujudkan cita-cita. Cuma saja, keadaanya serba tidak tepat. Temannya, yang dulu mengajak dia bekerja sama mendirikan dan menjalankan usaha warung bubur dan mie khas Sunda itu selalu pulang kampung setiap bulan Ramadhan hingga pertengahan Syawal. Temannya punya anak dan istri di Tasikmalaya. Bulan Ramadhan adalah bulan yang, baginya, tepat untuk pulang berlama-lama dengan keluarga. Sedangkan, menurut kesepakatan ketika mereka akan membuka warung bubur dan mie wawan—eko—yulianto © 2008... 23 khas Sunda itu, Sohib harus bersedia menjaga gawang selama bulan Ramadhan. Sohib harus mempersiapkan, menjaga warung dan melayani pembeli seorang diri. Jika pada hari-hari biasa warungnya buka 24 jam dengan jam jaga bergantian, kini di bulan Ramadhan warungnya buka mulai pukul 5 sore hingga 4 pagi. Dia menjaganya sendiri. Tapi, keuntungannya bisa dia nikmati hampir seluruhnya. Sayangnya, ketika orang-orang enak-enaknya berbuka, Sohib harus menahan diri karena harus melayani pembeli. Bahkan, tak jarang dia baru sholat maghrib setelah jam enam lebih seperempat. Kemudian, ketika orang-orang menjalankan sholat tarawih, Sohib harus bertahan di warung berjaga-jaga jika sewaktu-waktu ada pembeli. Seingatnya, sejak mendirikan warung bubur dan mie khas Sunda ini, Sohib tidak pernah sekalipun menjalankan sholat tarawih berjamaah. Dia selalu menjalankannya sendiri, itu pun selalu dia lakukan dengan mencicil. Jika warung sedang sepi, dia segera sholat di bilik kecil di belakang warung, tepat di belakang kompor yang terus memanaskan bubur, terpisahkan triplek penuh tambalan. Karenanya dia selalu berkeringat setiap kali menjalankan sholat. Biasanya, paling lama dia bisa menjalankan empat rakaat sebelum akhirnya dia potong karena ada pembeli. Kemudian, jika ada waktu lagi, baru dia bisa sholat lagi. Namun, diantara sedikit rakaat tarawih yang bisa dia kerjakan, dia tak pernah melupakan satu doa yang selalu dia panjatkan pada sujud terakhir: doa untuk cita-cita ibunya. Di dalam Ramadhan itu sendiri, ada satu bagian yang membuat dia lebih teriris-iris lagi, yaitu sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Semua orang tahu, sepuluh hari terakhir ini adalah gencar-gencarnya Gusti Allah mengabulkan doa hambanya. Sepuluh hari terakhir ini menjanjikan sebuah malam yang sangat mulia, malam yang menjamin terkabulnya doa salah satu diantara banyak hamba Allah. Sayangnya, wawan—eko—yulianto © 2008... 24 keluh Sohib, harus untuk itu harus iktikaf di masjid, harus sholat malam. Maka, terasa ada mengiris-iris ketika hampir setiap tengah malam pada bulan Ramadhan Haji Sobari mampir ke warungnya untuk membeli bubur kajang hijau dalam perjalanan beliau ke masjid untuk beriktikaf. Haji Sobari suka bersantai-santai dan berbicara ngalorngidul dengan Sohib. Sohib yang punya latar pendidikan agama tradisional di desa, lumayan bisa berbicara banyak dengan Haji Sobari. Bagaimanapun, seringkali Haji Sobari yang banyak berbicara. Terkadang, Haji Sobari bertahan di warung bubur dan mie sampai satu jam, sampai ada pembeli lagi. Sohib sampai berpikir bahwasanya Haji Sobari mampir di warungnya hanya untuk menemaninya melewatkan malam Ramadhan ketika tidak ada pembeli. Malam ini Haji Sobari mampir seperti biasanya. Dalam sepuluh hari terakhir Ramadhan seperti sekarang, bisa dipastikan Haji Sobari selalu mampir. Kebetulan sekali, Sohib sudah tidak bisa menahan keluh-kesahnya. Ketika Haji Sobar tengah menghabiskan bubur kacang hijaunya, Sohib memotong: “Anda sungguh beruntung, Pak Haji.” “Alhamdulillah, kalau Dik Sohib melihatnya begitu,” kata Haji Sobari. “Tapi, dalam hal apakah saya beruntung, Dik?” “Begini,” kata Sohib. “Pak Haji ini sudah pensiun, sudah haji, anak-anak sudah mapan. Pokoknya, beban duniawi sudah selesai, Pak Haji.” “Terus?” “Sudah begitu, Pak Haji masih saja berkesempatan dan bersedia beriktikaf di masjid setiap malam,” kata Sohib. “Sungguh itu rahmat, Pak Haji.” “Alhamdulillah.” “Sementara saya,” kata Sohib sambil menyekakan kain lap pada gelas yang baru dia cuci. “Saya ini hidup masih begini, dosa wawan—eko—yulianto © 2008... 25 bertumpuk-tumpuk, tidak pernah berkesempatan iktikaf lagi. Ah, jangankan iktikaf, sholat tarawih saja selalu sendiri.” “Coba, apa penyebabnya?” “Ya begini ini, Pak,” kata Sohib. “Saya harus bekerja.” “Nah, kerja itu wajib, kan?” tanya Haji Sobari sambil tersenyum, tak butuh jawaban. “Tarawih itu sunnah, kan? Iktikaf itu sunnah, kan?” “Ehmm . . . . Tapi, Pak,” kata Sohib. “Saya juga ingin mendapatkan yang sunnah, saya juga ingin mendapatkan lailatul qadar, saya juga ingin doa saya terkabul.” Haji Sobari menoleh, benar-benar meninggalkan bubur kacang hijaunya. “Dik, kalau memang halangannya seperti itu, jangan kuatir. . . . Dik Sohib masih ingat, kan, kalau Gusti Allah tidak pernah tidur? Gusti Allah itu tahu keadaan kita semua. . . . Kita tinggal berdoa, dan Gusti Allah pasti tahu, pasti dengar.” Sohib tak bisa menahan senyum ketika mendengar ucapan terakhir dari Haji Sobari. Dia tak tahu kenapa dia tersenyum. Yang jelas, setelah itu, ucapan Haji Sobari terasa begitu menghanyutkannya. Sampai-sampai, seorang lelaki memasuki warungnya. Seperti biasa, ketika ada seorang pembeli datang, Haji Sobari segera mengakhiri perbincangannya dan segera menuju masjid. Haji Sobari mengeluarkan dua lembar ribuan dari kopyahnya dan memberikannya kepada Sohib. Sebelum Sohib sempat mengambil kembalian, Haji Sobari bertanya kepada Sohib: “Sebenarnya, doa Dik Sohib yang paling ingin dikabulkan itu apa sih? Jodoh?” “Ah, Pak Haji, bukan,” kata Sohib. “Saya ingin ibu saya bisa naik haji.” “Oh, begitu,” kata Haji Sobari. “Gusti Allah selalu mengabulkan doa hambanya, tinggal tunggu waktunya. Saya bantu berdoa kalau ingat. Semoga ibu Dik Sohib bisa naik haji.” wawan—eko—yulianto © 2008... 26 “Aamiin,” jawab Sohib. Ternyata, lelaki yang baru masuk itu juga ikut mengamini doanya. Lalu, Haji Sobari meninggalkan warung Sohib. Dan baru kemudian Sohib sadar bahwa dia belum memberi kembalian Haji Sobari. Memang, Haji Sobari tidak pernah mau menerima kembalian dari Sohib. Kini Sohib melayani lelaki yang baru masuk itu. Baru kali ini Sohib melihat lelaki itu. Memang, terkadang ada saja pembeli yang mampir ke warungnya karena kebetulan lewat atau sedang menunggu mikrolet yang pada malam hari hanya lewat satu atau dua kali dalam sejam. Lelaki itu tetap berdiri di depan mejanya, dia tidak langsung duduk seperti lazimnya pembeli lain. “Makannya apa, Pak?” tanya Sohib. “Mmm, tidak, Mas,” katanya. “Saya hanya mau menitipkan ini.” Dia menyodorkan sebuah dompet kulit warna coklat. “Lho?” Sohib kaget. “Dompet siapa, pak?” “Saya juga tidak tahu, Mas,” katanya. “Saya tadi cuma lewat di depan dan tiba-tiba saja ada lihat dompet itu. Mungkin punya orang sekitar sini, Mas.” Sohib menerimanya dan meminta izin untuk membuka isinya. Tidak ada selembar pun uang di sana. Yang ada hanya sejumlah kartu nama, kertas-kertas tak jelas gunanya, sebuah KTP dan sebuah STNK sepeda motor. Sohib membaca KTP itu: ternyata dompet itu milik Haji Mizwar yang tinggal beberapa rumah di sebelah kanan warung Sohib. Dia mengatakan kepada lelaki itu tentang pemilik dompet itu. Begitu Sohib selesai mengatakannya si lelaki segera meninggalkan warung Sohib. Tak lama setelah kepergian lelaki itu, Sohib baru menyadari suatu kemungkinan: mungkin saja di dompet itu sudah tidak ada lagi uang karena lelaki tadi sudah mengambilnya. Tapi, pikirnya, kalau dia sudah mengambilnya, mengapa juga dia repot-repot menyerahkan wawan—eko—yulianto © 2008... 27 dompet itu agar si pemilik bisa mendapatkannya kembali. Sohib segera keluar warungnya, siapa tahu dia masih bisa menanyai lebih banyak tentang dompet itu. Begitu sampai di ambang pintu, Sohib melihat ke arah perginya lelaki itu. Jalanan sepi, aspal tersepuh keemasan nyala bohlam di kanan kiri jalan. Malam begitu damai. Tak ada deru kendaraan. Tak ada hembusan angin. Sementara, di langit, bintang samar-samar terlihat. Di sini, bintang selalu tampak samarsamar, berbeda dengan desanya di Kediri sana, bintang selalu tampak cemerlang. Sudahlah, pikir Sohib, mungkin lelaki itu memang menemukan dompet ini dalam keadaan tanpa * Keesokan sorenya, Sohib * ke uang. * rumah Haji Mizwar untuk Sohib segera masuk warungnya lagi. . . . mengantarkan dompet yang dia dapatkan dari lelaki pada tengah malam itu. Haji Mizwar senang sekali bisa mendapatkan dompetnya itu. Dari keterangan beliau, diketahui bahwa ternyata dompet itu memang tidak berisi uang. Ketika dompet itu hilang, Haji Mizwar kalang kabut karena di dompet itu terdapat STNK sepeda motor yang sebenarnya ingin dia juga sehari sebelumnya. Haji Mizwar sangat berterima kasih kepada Sohib atas kesediaannya mengembalikan dompet itu—padahal, dia hanya mendapatkan dompet itu dari seseorang yang kebetulan lewat warungnya pada malam hari itu. Karena cerita tentang penemuan dompet pada tengah malam itu, Haji Mizwar berjanji akan mampir di warung Sohib kapan-kapan jika sedang sulit tidur. Dalam basa-basi perbincangan itu, Haji Mizwar sempat menanyakan asal Sohib. “Saya dari Kediri, Pak,” jawab Sohib. “Oh, Kediri,” kata Haji Mizwar manggut-manggut, dia seperti mencoba mengingat-ingat sesuatu. “Kediri mana, Mas?” “Kecamatan Bogo, Pak,” jawab Sohib lemah. wawan—eko—yulianto © 2008... 28 “Bogo!” seru Haji Mizwar. “Saya punya seorang kenalan di sana. Namanya Bu Sulami.” “Bu Sulami?” seru Sohib. “Persis dengan nama ibu saya, Pak.” “Bu Sulami,” kata Haji Mizwar, “suami Almarhum Pak Karyan.” “Ooh . . . . itu bapak-ibu saya, Pak,” kata Sohib. “Kebetulan sekali . . . . Kenal dimana, Pak?” “Kenal di Mekkah, waktu naik haji tahun . . . ,” kata Haji Mizwar. “Oh, itu bukan orang tua saya,” kata Sohib. “Orang tua saya belum berhaji, Pak.” Sohib langsung ingat tentang cerita orang bahwa Haji Mizwar nyaris setiap tahun menunaikan ibadah haji, tanpa mengeluarkan biaya, karena dia menjadi Amirul Hajj. “Iya. . . ,” kata Haji Mizwar. “Saya sendiri jadi lupa tahun berapa saya kenal beliau berdua. Saya kenal mareka karena saya membantu Pak Karyan pulang ke maktab dari Masjidil Haram karena tiba-tiba beliau sakit. Sayangnya, beberapa hari setelah jatuh sakit yang tibatiba itu, Pak Karyan meninggal.” Setelah itu, mereka berbasa-basi lebih banyak lagi. Haji Mizwar menawarkan mengajak Sohib berbuka puasa di rumahnya, karena saat berbuka sudah tidak lama lagi. Namun, karena tugas memanggilnya untuk mulai membuka warung dan menunggu warung selama jam-jam buka puasa, maka dia menolaknya dengan wajar. Sebelum Sohib pulang, Haji Mizwar berkata kepada Sohib: “Oh ya, kalau pulang kampung, tolong mampir ke keluarga Bu Hajjah Sulami ya?” “Mmhh. . .” “Sebentar,” kata Haji Mizwar. Dia segera mengambil sejumlah album foto di bawah mejanya. Dia membuka-buka album itu sambil menggumam sendiri. “Ah! Ini dia.” Haji Mizwar telah menemukan sebuah foto dan menunjukkannya kepada Sohib. “Ini Bu Hajjah Sulami dan suami, berfoto dengan saya dan istri saya.” wawan—eko—yulianto © 2008... 29 Sohib terperangah dan mengucap, “Masya Allah,” begitu melihat foto tersebut: suasana rumah sakit, tampak seorang perempuan yang dia kenal sebagai istri Haji Mizwar berdiri agak di depan, di tempat tidur terlihat seorang lelaki yang tampak lemah, itu bapak Sohib, dan duduk di sebuah kursi di tepi ranjang, tampak seorang perempuan dengan senyum yang dipaksakan, itu ibu Sohib. . . . wawan—eko—yulianto © 2008... 30 D IBERIKANNYA AIR KEHIDUPAN, LEBIH DARI SETETES “Namaku Kyai Mukhid,” begitu dia pertama kali datang dan berkata dengan suaranya yang sangat berat dan parau. Para warga di kamp pengungsian itu terpesona dengan turban putih yang begitu kontras dengan kaus oblong yang dipakainya. Mereka mengerumuninya dan melihat jenggot dan kumisnya yang hitam legam dan kaus oblong warna hijau yang sebenarnya adalah kaus partai yang sudah luntur sablonnya. Kyai Mukhid tampak begitu menakutkan saat menatap dengan matanya yang cekung. Begitu juga saat dia berbicara dengan mulut yang nyaris selalu tersembunyi di balik rimbunnya jenggot dan kumis misteriusnya. Tak bisa tidak, para pengungsi seperti menemukan harapan pada sosok Kyai Mukhid. Mereka menceritakan betapa sebuah perusahaan pengeboran minyak menancapkan pipa-pipa raksasa dengan mesin raksasa dan menimbulkan getaran-getaran gempa yang membuat mereka gentar untuk mendekati kawasan itu. Suatu kali, pipa yang sedang ditancapkan mesin-mesin raksasa itu tidak bisa menghujam lebih dalam. Maka, sang operator memutuskan untuk melepasnya lagi. Dan ketika pipa itu dilepas, lumpur beruap memancar keluar. Pertama lumpur itu hanya meleler-leler dari lobang sebesar sumur. Namun, kemudian lumpur semakin deras hingga seperti air mancur. wawan—eko—yulianto © 2008... 31 Tentu saja mereka juga menceritakan kepada Kyai Mukhid bahwa setelah itu lumpur menggenangi seluruh lahan persawahan mereka, dan kemudian meleler ke jalan-jalan, dan terakhir memasuki pintu rumah mereka seperti tamu yang tak pernah mau disuruh pulang. Saat itulah mereka mulai tinggal di tempat pengungsian yang disediakan para pegawai kabupaten. Kyai Mukhid mendengarkan dengan manggut-manggut dan sesekali memejamkan matanya yang setajam mata bor itu. “Kyai, mari masuk dulu ke bilik kami agar Pak Kyai tidak kepanasan,” sela seseorang sebelum Kyai Mukhid sempat mengucapkan sepatah kata pun. Kyai Mukhid pun menuruti ajakan itu dan mengikuti saja kemana orang-orang itu mengajaknya. Dia memasuki salah satu bilik pengungsian yang penuh sesak dengan barang itu. Ada televisi, kasur yang digulung, baju yang dibuntel kain selimut garis-garis, dan sejumlah mainan anak-anak yang bertebaran di lantai. Bilik pengungsian itu tidak memiliki pintu depan. Si pemilik bilik mengambil sebuah sajadah di satu sudut ruangan dan membentangkannya, untuk Kyai Mukhid. Kyai Mukhid langsung duduk bersila bersama beberapa orang yang mendapatkan tempat untuk duduk di dalam bilik tersebut. Belasan orang lainnya yang tetap takjub melihat sosok Kyai Mukhid yang seperti keluar dari film-film India tersebut. wawan—eko—yulianto © 2008... 32 “Sekarang, separah apakah perkembangan lumpur kalian tersebut?” tanya Kyai Mukhid. “Lumpur itu pertama kali memancar tiga bulan yang lalu, Kyai,” jawab salah seorang yang duduk di dalam bilik tersebut. “Sekarang bukan hanya sawah, tapi desa kami dan dua desa tetangga sudah menjadi lautan lumpur, hitam, panas, mengepul-ngepul.” “Lautan? Danau? Atau sungai yang besar?” tanya Kyai Mukhid, bukan kepada orang-orang itu. Gelagatnya yang bertanya-tanya sendiri sambil memejamkan mata. Kepalanya teleng ke kanan seperti bertanya kepada malaikat penjaga yang sudah dia akrabi. “Kalian mendapatkan rahmah, Saudara-saudara,” kata Kyai Mukhid. Semua orang yang ada di sana saling memandang serba tak mengerti. Seseorang mengambil nafas berat di sana, kemudian meludah. Seseorang mulai meninggalkan kerumunan itu sambil merogoh sakunya untuk mengambil rokok dan korek. “Memang, Kyai,” kata seorang yang duduk di sekitar Kyai Mukhid di dalam bilik tersebut, senyumnya mencong. “Memang, kami jadi kenal yang namanya Kyai terkenal Aa’ Rusdi yang malam Jumat kemarin berceramah, kami juga jadi kenal penyanyi dangdut Lita Nurlita yang menghibur malam Minggu lalu, kami juga jadi pernah bersalaman dengan Pak Presiden yang datang untuk memarahi perusahaan minyak dan menguatkan semangat kami agar tetap sabar. wawan—eko—yulianto © 2008... 33 Kalau yang dimaksud rahmah adalah yang seperti itu, memang benar adanya Pak Kyai.” Kyai Mukhid juga mendengus. Tak jelas dia juga tersenyum atau tidak. Terlalu sulit menyimpulkan hal itu karena jenggot dan kumisnya yang lebat itu. “Pasti kalian kenal Nabi Khaidir,” kata Kyai Mukhid, sambil membenahi letak turbannya. Sementara itu, orang-orang tampak mengingat-ingat. Beberapa orang manggut-manggut tanda mengerti. Namun, tampaknya mereka tidak bisa menemukan hubungan antara banjir lumpur dengan Nabi Khaidir, hingga Kyai Mukhid melanjutkan, “Kalian adalah orang-orang yang mendapat kehormatan untuk memberikan tempat singgah bagi Nabi Khaidir. Kalian merelakan tanah kalian menjadi perairan. Peraian adalah tempat kesukaan Nabi Khaidir.” Para pengungsi yang berkerumun tampak semakin serius mendengarkan Kyai Mukhid. Beberapa wanita yang tadi berlalu lalang, kini mendekat untuk turut mendengarkan. Anak-anak kecil jongkok dengan kaki kotor tak bersandal dan pipi yang menghitam karena ingus bercampur debu. “Nabi Khaidir hidup hingga akhir jaman dan Beliau punya banyak waktu untuk mengunjungi seluruh perairan yang ada di muka bumi. Dan di setiap perairan itu, dia teteskan setitik Air Kehidupan, sekedar wawan—eko—yulianto © 2008... 34 berbagi hikmah,” kata Kyai Mukhid. “Dan yang kebetulan melihatnya meneteskan air itu akan turut mendapatkan kemuliaan.” “Semoga belum terlambat, Kyai,” kata seorang di samping Kyai Mukhid. “Kabarnya tanah kami itu akan dibeli dan kami akan diberi uang pengganti untuk membangun tempat tinggal baru beserta membeli lahan persawahan baru. Tapi... itu juga masih baru kabar, Kyai.” “Tunggulah sebentar, tunggulah hingga kalian melihat Nabi Khaidir meneteskan Air Kehidupan itu.” “Ah, andaikan para pengusaha pintar itu mau mendengarkan alasan semacam itu, Kyai,” kata si pengungsi diakhiri helaan nafas panjang. “Cobalah dulu,” kata Kyai Mukhid. “Sementara itu, saya akan mencoba sejauh yang saya mampu.” Begitu Kyai Mukhid menyelesaikan kata-katanya, salah seorang perempuan datang membawa loyang yang di atasnya terdapat es teh dalam gelas sudah berembun. “Silakan, Pak Kyai,” kata si ibu. “Terima kasih,” kata Kyai Mukhid sambil merogoh ke dalam tas yang terlingkar di pinggangnya. “Saya sudah bawa minum sendiri. Lebih baik teh itu untuk anak-anak Kalian saja, mereka lebih membutuhkan daripada saya.” Kemudian Kyai Mukhid mengeluarkan botol kaca seperti bekas botol madu. Isinya cuma air putih yang tampak agak kusam, mungkin karena botolnya, mungkin juga karena wawan—eko—yulianto © 2008... 35 airnya yang sudah lama. Dia meneguknya sedikit sekali, lalu memasukkannya lagi ke dalam tasnya. * * * Sehari setelah kedatangan Kyai Mukhid, para pengungsi itu mulai sering meluangkan waktunya di tepi danau lumpur setiap sore menjelang malam, sepulang kerja. Mereka memanjat tanggul lumpur yang kini sudah setinggi lebih dari sepuluh meter. Dari kejauhan, iringiringan orang-orang dewasa dan sejumlah anak-anak itu terlihat seperti eksodus mencari tanah terjanji. Sesaat, truk-truk yang membawa sirtu untuk meninggikan tanggul tidak bisa lewat karena para pengungsi memenuhi bagian atas tanggul, mereka sungguh sulit diatur. Beberapa waktu kemudian, para pengungsi yang menonton lumpur itu lebih bisa mengatur posisi mereka. Mereka mengerti bagaimana mereka harus menghindari ketika truk pembawa sirtu datang. Bagaimanapun, mereka mesti rela menghirup debu yang bertebaran ketika truk-truk pembawa sirtu itu lewat. Pada awalnya mereka menutup hidung karena bau lumpur yang seperti limbah pabrik bercampur belerang, tapi tak lama kemudian mereka sudah bisa mengabaikan bau itu. Sebenarnya, tidak ada yang benar-benar menjadi agenda mereka. Mereka hanya bersantai-santai berbincang-bincang di keremangan cahaya senja. Di arah timur sana hari terasa lebih cepat wawan—eko—yulianto © 2008... 36 gelap karena asap yang mengepul jauh dari pusat semburan lumpur bercampur dengan asap-asap pabrik yang mulai membeku awangawang. Saat maghrib datang, mereka mengadakan sholat berjamaah. Karena terlalu jauh untuk turun dari gundukan tanggul yang tinggi itu, mereka bertayamum dengan sirtu yang ada di sekitar mereka. Imamnya adalah Kyai Mukhid yang ternyata masih ada di tengahtengah mereka. Biasanya, antara maghrib sampai isya, truk-truk pengangkut sirtu peninggi tanggul itu berhenti berputar-putar di atas tanggul. Maka, mereka bisa sholat maghrib berjamaah tanpa gangguan dan berbincang-bincang dengan Kyai Mukhid. Dari jauh, mungkin akan tampak Kyai Mukhid berceramah kepada para pengungsi itu. Namun, jika kalian ikut di dalamnya, kalian akan lihat Kyai Mukhid sebenarnya hanya bertanya-jawab dengan mereka soal Nabi Khaidir, danau lumpur, dan rencana-rencana perusahaan pengeboran untuk membeli tanah mereka tersebut. “Kalian sudah mendekati rahmah,” kata Kyai Mukhid saat seorang pengungsi membayangkan betapa senangnya mendapatkan dana santunan berjuta-juta rupiah untuk membangun rumah, pindah rumah dan berganti usaha. “Kalian tunggu saja dulu kemunculan Nabi Khaidir. Beri waktu kepada dia untuk datang. Setidaknya dua tiga bulan lagi.” “Lalu apa yang musti kami lakukan, Kyai?” tanya orang tersebut. wawan—eko—yulianto © 2008... 37 “Sementara itu, kalian usahakan agar tetap mendapat santunan tanpa harus kehilangan tanah kalian ini.” Mereka semua manggut-manggut. “Kalian ingat rumah-rumah yang kalian bangun dengan keringat kalian sendiri?” “Tapi rumah-rumah itu sudah terkubur, Kyai.” “Kalian ingat sawah-sawah kalian yang telah memberi banyak kebahagiaan, yang bisa membuat kalian menyekolahkan anak hingga lulus sekolah, yang membuat kalian selalu bangun pagi dan pulang sore hari?” “Tapi sawah-sawah itu sudah terkubur dan mustahil bisa ditanami. Lumpur ini beracun, Kyai.” “Kalian ingat kuburan bapak-ibu, kakek-nenek, dan buyut-buyut Kalian?” “Tapi kubur-kubur itu sudah terkubur, Kyai.” “Kalian tidak akan bisa berziarah ke tempat mereka lagi, kalau kalian sudah melepaskan desa ini.” “Tapi, Kyai, meskipun tidak kami jual, tetap saja kami telah kehilangan nisan-nisan mereka, kami tak tahu lagi dimana letak kuburan itu, Kyai.” “Bayangkan, kalau kalian jual kepada mereka dan kelak semburan lumpur itu bisa dihentikan dan mereka membangun sesuatu wawan—eko—yulianto © 2008... 38 sesuka mereka, misalkan saja pabrik, perumahan, tempat hiburan, apa kalian tahan melihatnya?” “Maksud Kyai?” “Apa kalian kuat menjalani hidup tanpa punya kuburan orang tua untuk diziarahi? Apa mungkin kalian meminta ijin si pemilik tanah di masa depan untuk menggali kuburan orang tua kalian yang terpedam lebih dari lima meter di dalam tanah dan kemudian memindah tulang belulah orang tua kalian?” Mereka tercengang. “Jika tanah ini masih punya kalian, kalian bisa dengan mudah memasang nisan-nisan baru di atas tanah dimana kira-kira kuburan orang tua kalian berada, dan kalian bisa berziarah setiap lebaran.” Mereka tercengang dan tenggelam bersama kepala mereka yang tertunduk dalam-dalam. Sungguh tak ada yang bisa mereka lakukan. “Lalu apa yang musti kami lakukan?” “Jangan mau tanah kalian dibeli orang-orang itu,” kata Kyai Mukhid. “Cari dukungan siapa saja yang memungkinkan. Minta saja sewa dari mereka setiap bulannya. Jika tanah kalian dibeli, harga berapapun tidak akan cukup untuk membeli tempat tinggal yang sebanding dengan rumah kalian. Sementara itu, kalian mencoba mencari pekerjaan sebisa kalian. Tunggulah, tidak akan ada sesuatu yang abadi, tunggulah sampai lumpur itu berhenti menyembur. Meski itu berarti bahwa hanya anak kalian saja yang nantinya bisa kembali wawan—eko—yulianto © 2008... 39 meninggali tanah kalian itu. Sementara itu, jangan lupa sering-sering kemari, menunggu Nabi Khaidir yang bisa datang sewaktu-waktu. Dia selalu tertarik dengan kerumunan orang-orang yang berzikir. Aku bisa berjanji, jika kalian bisa bertemu dengan Nabi Khaidir dan mengambil hikmah darinya, kalian pasti akan lebih mulia, kalian tak akan dibodohi siapapun.” “Terima kasih, Kyai,” kata seorang pengungsi. “Tolong juga bimbing kami selama mengupayakan hal itu.” “Pasti!” * * * Tak lama setelah itu, beberapa warga mengungkapkan gagasan Kyai Mukhid tersebut kepada banyak orang. Organisasi-organisasi independen mendukung mereka, sejumlah pejabat setempat mendukung mereka, pemerintah pun mendukung mereka. Tak ada yang tahu, mengapa segalanya bisa semudah itu. Bisa saja segalanya begitu mudah, seperti halnya bisa saja segalanya begitu sulit. Hingga akhirnya dengan segala perundingan yang alot, pihak perusahaan pengeboran minyak terpaksa menyetujui permintaan warga agar tanahnya hanya disewa itu. Pada malam sebelum penandatanganan perjanjian perihal penyewaan tanah milik para petani itu, para pengungsi mengadakan tahlil dan zikir bersama di kawasan tanggul lumpur. Tentu saja, Kyai Mukhid tetap berada di tengah-tengah mereka. Kali ini bukan beliau wawan—eko—yulianto © 2008... 40 yang memimpin pertemuan. Seorang Kyai Kondang setempat memimpin acara tersebut. Pertemuan itu begitu ramai dan orangorang datang berdesakan. Ketika acara usai orang-orang bersiap-siap pulang dan berdesakdesakan, tak terkecuali Kyai Mukhid. Dia terdorong-dorong para peserta zikir yang lain hingga dia tersudut ke dekat truk-truk pembawa sirtu. Sebuah dorongan yang terlalu keras membuat dia menabrak bemper truk dan terdengarlah bunyi kemeretak dari tas pinggangnya. Dia tahu, itu adalah tempat botol airnya. Botol airnya retak. Kyai Mukhid segera minta tolong kepada para pengungsi untuk mencarikan botol pengganti. Akhirnya, dia mendapatkan botol air mineral yang sudah kosong. Dia segera memindahkan air di dalam botol kacanya yang retak itu ke dalam botol air mineral. Untung botol kacanya belum benar-benar pecah. Di botol kaca tersebut masih tersisa sedikit air. Botol air mineral yang kecil itu tidak bisa menampung seluruh isi botol kacanya. Dia segera meneguk sebagian air yang masih tersisa di botol kacanya. Masih ada sedikit lagi air di sana... Dia segera lemparkan botol itu ke danau lumpur. “Sudah kuberikan, lebih dari setetes,” katanya kepada seorang pengungsi yang ada di dekatnya. “Maksud Kyai?” kata si pengungsi bertanya-tanya. Dia segera menoleh ke danau lumpur yang gelap. Tak ada apa-apa. Kemudian dia menoleh lagi ke Kyai Mukhid: dia sudah tidak di sana. wawan—eko—yulianto © 2008... 41 Dia sudah memberikannya, lebih dari setetes! wawan—eko—yulianto © 2008... 42 “JANGAN BU YAH!” KATA IBU KOS Aku lupa tepatnya, kapan aku mulai mendengar tentang Bu Yah, seorang janda usia enampuluhan. Bu yah menjalani hidup sehari-hari sebagai seorang melijo, penjual sayur-mayur, lauk-pauk, serta bumbubumbuan kecil-kecilan. Tempat mangkalnya di kawasan kos-kosan dan pemukiman padat Ah, tempatku salah, tinggal. sepertinya Bu yang Yah benar mencoba adalah peruntungannya. peruntungan mencoba mendekati Bu Yah. Oh ya, Bu Yah berjualan di depan sebuah warnet dengan bermodalkan sebuah bangku ramping dan panjang, serta gerobak yang tak beratap. Hanya memiliki empat tinggal di keempat sudut untuk menambatkan ujung-ujung tali yang dia pakai tempat menjemur rentengan bumbu-bumbu masak. Aku tidak tahu pasti tentang Bu Yah, begitu juga dengan temantemanku sesama anak kos. Kebanyakan temanku yang memasak makanannya sendiri tidak belanja sayur-mayur atau lauk-pauk dan semacamnya di Bu Yah. Mereka beli dari sebuah warung yang tempatnya agak jauh. Konon, Bu Yah itu mahal, kata teman-temanku. Aku mengenal Bu Yah, murni dari ibu kosku. “Nak Lintang, kalau sampean mau masak atau belanja sayur-mayur dan lauk-pauk, usahakan jangan di BU Yah depat warnet itu,” kata ibu Kosku. “Dia jualannya selalu lebih mahal.” Aku manggut-manggut saat mendengarnya. Saat itu, aku masih semester satu, dan ibu kosku wawan—eko—yulianto © 2008... 43 mengira aku juga seperti kebanyakan anak kos dari Kediri lainnya yang suka dan memang pintar memasak. Sayangnya, aku tidak terpikir untuk memasak. Kalaupun aku sampai ingin masak sendiri, pastilah aku hanya akan memasak nasi. Dan lauknya bisa beli di warung. Aku pun tidak sempat berhubungan secara langsung dengan Bu Yah. Meski demikian, aku sering sekali mendengar tentang Bu yah, tentu saja dari ibu kosku. “Bu Yah itu aneh,” kata beliau suatu kali saat aku menunggu kedatangan seorang kawan di teras rumah. “Dia itu jualan, tapi ada saja alasannya kalau ada orang yang sebelumnya tak pernah beli lalu datang untuk beli. Lalu ibu kosku ceritakan tentang suatu kali ketika seorang anak kos di tempatku ini belanja. Anak kos itu mahasiswa baru. Kira-kira, seperti ini ceritanya: “Bu, beli wortel,” kata si anak kos. “Wah, sudah habis, Mas,” kata Bu Yah. “Itu, Bu, masih ada, maaf,” kata si anak kos sambil menunjuk sebungkus wortel segar dari Pujon. “Ini sudah dipesan orang, Mas,” kata Bu Yah. Begitulah ibu kosku bercerita dan kemudian beliau mengakhiri ceritanya dengan, “Padahal, dik Lintang, dagangan itu tidak terlalu ramai dan siang itu wortelnya masih ada. Sudah umum diketahui warga sini kalau agak sedikit siang biasanya Bu Yah itu menjajakan dagangannya keliling kampung, biar habis. wawan—eko—yulianto © 2008... 44 Aku bertanya-tanya, orang macam apa sebenarnya Bu Yah ini? Apa yang membuatnya sampai begitu? Besar sekali hasratku untuk bisa mengetahui sendiri. Seperti apa wajahnya saat mengatakan halhal itu kepada orang-orang yang membelinya. Bagaimanapun, kesibukanku yang amat ketat membuatku tak mungkin mengamatinya dengan jelas. Aku sempat lupa di tengah-tengah kesibukan awal kuliah. Saat aku sudah semester delapan dan menerjemah buku untuk sebuah penerbit jarak jauh, aku akhirnya mendapatkan kesempatan itu. Setidaknya, dua kali dalam seminggu aku pergi ke warnet. Pada salah satu kunjunganku ke warnet itulah, aku teringat lagi dengan reputasi Bu Yah. Aku jadi sering melihat Bu Yah. Aku mulai menyempatkan diri berlama-lama menyaksikannya. Aku mencari kesempatan untuk memandangnya. Pada awalnya, aku seringkali memakai sandal jepit untuk ke warnet. Di warnet ini, tempatnya berkarpet. Jadi, pelanggan harus menaruh sandalnya di boks-boks sarang lebak terbuka. Seorang kawan menceritakan bahwa dia kehilangan sandal gunungnya yang baru dua minggu dia pakai, pada saat ngenet di situ. Maka, aku memakai sandal jepit juga. Namun, saat aku mulai terpikir untuk mengamati Bu Yah, aku memutuskan untuk memakai sandal gunungku. Tapi, aku menaruh kedua sandalku secara terpisah dengan harapan sedikit menyulitkan si maling. Pada saat pulang, aku mengambil sandal gunung dan wawan—eko—yulianto © 2008... 45 memakainya di luar pada sebuah kursi khusus untuk pelanggan warnet yang antri menunggu booth kosong. Sambil berlama-lama menalikan sandal gunungku, aku mengamati gerobak tanpa atap milik Bu Yah. Kulihat daging-daging segar yang sudah tercuci bersih, kentang yang sudah terkupas, bumbu-bumbu masak yang sudah terjemur rapi pada tali yang menghubungkan keempat tiang di gerobak Bu Yah dan juga seorang lelaki yang sedang membersihkan rebung. Aku tidak bisa melihat wajah Bu Yah secara langsung. Hanya kulihat kondenya yang sudah disergap helai-helai putih seperti bunga jambu air. Memang, tak seorang pun membeli dagangannya. Aku segera pulang begitu kedua sandal gunungku terikat rapi. Dan di rumah aku bertanya kepada ibu kosku, begitu ada kesempatan. “Saya tadi lihat sendiri, Bu, yang namanya Bu Yah itu,” kataku. Ibu kos lalu menanyakan apakah aku bisa melihat wajahnya. “Tidak, Bu,” “Kapan-kapan lagi lihat wajahnya, Dik,” wanti-wantinya. “Pasti selalu cemberut. Kebanyakan orang sini tidak suka karna wajahnya yang cemberut itu. Mereka lebih suka ke warung Bu Yun. Meski agak jauh, warung itu murah dan murah senyum. Aku mengabaikan hal itu selama beberapa hari karena tertekan skripsiku yang sudah lumayan merepotkan dalam segi bahasa. Saat itu, aku mengerjakan karya sastra yang berhubungan dengan sejarah wawan—eko—yulianto © 2008... 46 Irlandia. Aku mengenal kata “boycott” yang diambil dari nama seorang pemimpin gerakan “boikot” di Irlandia. Aku jadi teringat Bu Yah lagi. Beberapa hari selanjutnya, aku iseng bertanya ke seorang anak kos tertua di tempat kami, namanya Wirawan, soal Bu Yah. Sebenarnya, ini usaha serampangan. Tapi, mengingat dia mahasiswa tertua dan selalu memasak tiap hari, meski hanya telor dan nasi, atau kari “cakar ayam,” aku jadi memiliki peluang tahu lebih banyak soal Bu Yah. Menurutnya, yang tak pernah belanja di Bu Yah karena provokasi ibu kos, Bu Yah dulunya laku, sebelum ketahuan bahwa dia memakai pesugihan untuk menarik pelanggan. Hm, aku jadi menemukan fakta baru. Beberapa kali aku mengamati BU Yah sambil mengikatkan sandal gunungku. Aku hanya sempat melihat sekilas saja wajahnya selama itu. Aku jadi terpikir untuk membeli sesuatu padanya hanya untuk mencari tahu ekspresinya. Aku mulai merasa dengan bantuan kesadaran dan sedikit pengetahuan tentang pesughan, sepertinya aku mulai terkena mantra pesugihannya. Dalam keadaan serba kekurangan seperti ini, aku ingin membeli bahan-bahan di tempatnya dan memasaknya sendiri. Ah, apa benar aku mulai terkena? Kapankah aku mulai terkena mantranya? Apa pada saat aku melihat beliau mengupas kentang, atau pada saat dia menghilangkan sisik ikan? Menurutku, aku ingin belanja karena aku memang ingin melihat wawan—eko—yulianto © 2008... 47 wajahnya. Untuk sementara waktu, aku cukup puas dengan hanya melihatnya repot dengan barang-barang dagangannya. Di rumah, aku menyempatkan diri bertanya ke seorang temanku, aku mengajaknya memasak murah-murahan, kari cakar ayam. Saat aku mengatakan ingin belanja di Bu Yah, aku mendapat cerita. “Kata Bu Kos, Bu Yah itu pelit dan mahal.” Lalu, setelahnya aku bertanya lebih jauh, aku baru tahu bahwa anak ibu kos suatu saat pernah belanja wortel dan buncis. Karena melijo lainnya tidak ada yang berjualan. Saat ingin membeli wortel dan buncis dengan harga seribu rupiah, Bu Yah langsung bilang, “Tidak boleh, Mbak, sekarang apa-apa mahal. Kalau mau beli buncis atau wortel masing-masing seribu tidak apa-apa. Akhirnya, anak ibu kos pun menuruti apa kata Bu Yah. Agak siang, ketika aku hendak berangkat ke kampus, aku ketemu lagi dengan Bu Yah. Kali ini dia menjajakan sayurannya keliling, “Sayur, daging, ikan, Mas.” Katanya dengan senyum malumalu. Aku yang sudah nyaris terlambat hanya tersenyumdan berbasabasi. Senyumnya saat menawarkan dan mendorong gerobak, dan mulutnya yang terkatup rapat benar-benar tak menunjukkan kesombongan. Sementara, suatu sore saat membeli rokok di warung Mbak Yah, aku ditanya. “Mas ini kos di rumahnya Bu Yanto, ya?” wawan—eko—yulianto © 2008... 48 “Iya, bu.” “Ini, mas, saya mau minta tolong titip ini ke Bu Yanto, maaf saya kerepotan melayani pembeli. Lalu dia serahkan bungkusan seperti bungkusan nasi tapi sangat ringan dan lunak. Aku tak ingin tahu apa isinya. Namun saat aku berjalan, tercium aroma bunga ziarah di sana. Aku langsung kaget dan segera menyerahkannya ke Bu Yanto yang segera menerimanya dan segera masuk kamar untuk menelpon. “Yati mana?... Ya sudah, titip pesan saja... Lain kali jangan menitipkan barang itu ke orang lain... Apa kamu mau warungmu gulung tikar?” wawan—eko—yulianto © 2008... 49 (MANTAN) SUPERKAYA (Inilah saatnya aku berkisah tentang salah satu pengalamanku menjadi tukang pijat di jaman ketika manusia tak lagi mengenal uang.) Namaku Lintang. Aku tinggal di dusun Sumber Lugu. Aku tidak punya kambing ataupun sapi. Tapi aku punya keahlian: aku pandai memijat. Sekalian, dalam kesempatan ini, aku ingin mengumumkan barang siapa diantara kalian merasa pegal-pegal atau sakit dalam, silakan datang ke tempat praktekku. Tempatnya adalah di pos kamling dusun Sumber Lugu. Pos itu terbuat dari kayu dan bercat hijau—tapi sekarang catnya sudah banyak mengelupas. Bisa dipastikan, setiap malam aku berjaga di situ. Aku menunggu siapa saja yang ingin pijat. Aku biasanya pulang dari sana pada pukul 1 dinihari. Jadi silakan saja datang kalau memang butuh. Sebagaimana halnya dengan orang lain, kalian hanya perlu membawa tembakau secukupnya. Biasanya, orangorang membawa dua puluh linting rokok atau sekantong tembakau, itu saja sudah cukup. Diantara para pasienku, ada seorang yang sangat lain. Biarkan kuceritakan kepada kalian tentang kisahku dengan orang ini. Begini ceritanya: wawan—eko—yulianto © 2008... 50 Ketika itu aku lagi sepi pasien. Aku hanya merokok sambil sesekali menyenandungkan tembang lawas yang diajarkan bapakku: “. . . di atas semua, hanya aku dan bintang, la la la laaa. . .” Suaraku berperang dengan kesiur angin di rumpun bambu yang rimbun sekali di dusunku. Kemudian, datanglah seorang lelaki usia lima puluhan ke tempat praktekku itu pada pukul sebelas malam. Dia mengendarai sepeda kumbang yang terlihat kuat. Mungkin merk kuno Gazelle. Saat bersepeda, aku lihat dia sangat bersemangat. Namun, begitu turun, dia terbongkok-bongkok. Sepertinya ada yang tak beres dengan punggungnya. Aku segera meletakkan rokokku pada bibir pos kamling dan segera mendekati sepedanya. Nafasnya terengah-engah dan seperti tak kuat berjalan jauh. Aku memapahnya sampai kami bisa naik ke pos kamling. Dengan sedikit perjuangan, akhirnya aku bisa membawanya ke singgasanaku. Aku bantu dia duduk, meskipun agak susah payah. Begitu duduk, dia terlihat segar lagi. Apa maksudnya orang ini? “Lho, sudah sembuh ya, Pak?” tanyaku. Aku ambil lagi rokokku yang tadi kutaruh di bibir pos kamling. “Iya,” katanya sambil mencari posisi duduk yang paling enak. “Ya begini ini, kalau sudah duduk, di kursi, di lantai, maupun di atas sepeda, saya sudah merasa sehat. Rasanya seperti tak pernah sakit.” wawan—eko—yulianto © 2008... 51 “Wah, sepertinya sampean tak perlu berobat ke saya,” kataku sambil cengar-cengir. “Obatnya cuma satu: jangan berdiri dan duduklah yang banyak.” “Ah, mas Lintang ini, kalau itu sih saya sudah tahu sejak lahir, atau bahkan sejak sebelumnya,” kata bapak itu. “Oh ya, nama saya Misdi, dari desa Lumbung Layu.” Lalu, sedikit demi sedikit aku ingat kata orang-orang tentang pak Misdi yang punya banyak tanah dan rumah itu. Kemudian kami berdua tertawa-tawa seperti bukan pembicaraan antara tukang pijat dan orang sakit. Namun, tetap saja, aku harus menanyakan banyak hal kepada pak Misdi itu. Dari situlah aku tahu bahwa dia mulai merasakan sakit seperti itu sejak beberapa bulan sebelumnya. Yang baru kuketahui adalah bahwa yang terasa sakit itu sebenarnya bukanlah punggungnya, melainkan pantatnya. Dia belum berani sekalipun datang ke dokter. Memang, di jaman ini dokter itu barang mewah. Setidaknya kita butuh satu gram emas untuk ke dokter dan mendapatkan obat-obat yang kita butuh. Bahkan, kalau sakitnya parah, bisa-bisa kambing satu melayang hanya untuk dua tiga kali berobat. Pak Misdi juga belum siap menghadapi penilaian dokter yang kadang-kadang bikin jantungan, dan adakalanya terdengar seperti vonis. Ah, maaf, itulah pendapat tentang dokter dari kacamata tukang pijat. wawan—eko—yulianto © 2008... 52 Setelah agak lama berbincang-bincang, aku menyuruh pak Misdi untuk mengambil posisi telungkup dan mulai memijat dari bawah. Saat telungkup itu, dia terlihat kesakitan lagi. Dari wajahnya yang menghadap kanan, aku lihat dia meringis kesakitan. Dengan sedikit mengacuhkan kesakitannya, kumulai pijatanku. Metode refleksi kugunakan untuk menerawang penyakit lewat telapak kaki. Aku pijatpijat dan urut seluruh jari kaki, cekungan kaki, bagian tumit. Dari sana, aku tidak menemukan adanya masalah. Tidak terasa ada urat refleksi yang tak normal. Organ-organ dalam tidak bermasalah. Tapi bisa saja aku salah. Maka, aku langsung pakai metode Shiatsu. Aku telusuri tungkai pak Misdi mulai dari mata kaki sampai agak naik ke atas. Dengan bantuan minyak khususku—minyak kelapa dan jeruk nipis—aku jelajahi betis. Sementara itu dia tetap meringis kesakitan. Betis oke. Lalu ke tulang kering di balik betis. Tulang kering juga oke. Mangkok sendi lutut juga oke. Belakang lutut juga oke. Aku mulai curiga, mungkin orang ini memang sehat. Paha belakang juga oke. Tapi dia tetap meringis kesakitan dan sesekali juga merintih. Aneh, padahal semuanya baik-baik saja. Tidak ada masalah sama sekali dengan pencernaan, pernafasan, dan pembuangan. Namun begitu aku sampai ke pantatnya, dia langsung terlihat sangat tenang dan seperti kehilangan rasa sakitnya. Dia seperti menikmati pijatanku di pantatnya. Aku jadi khawatir dia ini sebenarnya homoseksual. Ah, wawan—eko—yulianto © 2008... 53 tak mungkin! Konon dia suka menggoda gadis-gadis buruk tani. Aku tinggalkan pantat dan naik lagi ke punggung. Dia kesakitan lagi. Tapi menurut urat-urat yang kuurut, semuanya tampak oke. Tulang belakang juga oke. Ah, sakit apa sih pak tua ini? Aku suruh saja dia duduk lagi. Rasanya yang aku butuhkan sekarang adalah berbicara. Setelah duduk lagi aku mulai lagi terawangku. Sementara itu, waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. “Bagaimana tadi rasanya waktu dipijat, Pak?” tanyaku. “Pokoknya, seperti sampean lihat tadi,” katanya pak Misdi. “Saya kesakitan terus, kecuali waktu sampean pijat pantat saya. Cuma itulah saya merasa sangat sehat.” “Saya memang tidak pernah melihat sakit seperti ini,” kataku. “Menurut saya sih sampean ini sehat. Tidak ada masalah. Tapi apa ya yang kira-kira membuat sampean seperti itu? Soalnya, organ-organ dalam sampean tidak ada yang bermasalah. Kalaupun ada yang tak beres, kemungkinan itu hanya masalah persendian atau otot. Jangan kuatir, tak akan terlalu bermasalah.” “Tak terlalu bermasalah bagaimana maksud sampean ini mas Lintang?” tanyanya. “Sampean tadi lihat sendiri saya kesulitan berjalan dari sepeda ke sini. Lagipula, rasa sakitnya terus bertambah dari bulan ke bulan.” Sambil mendengar dia berbicara aku memutar wawan—eko—yulianto © 2008... 54 otakku mencari-cari cara yang bisa dicoba untuk mengatasi penyakit pak Misdi ini. “Begini, Pak,” kataku mulai mencoba-coba satu solusi yang mungkin saja bisa berhasil. “Sampean minta ke anak atau istri sampean untuk mencarikan celana jeans ketat. Kalaupun bukan kain jeans, cari kain apa saja yang kira-kira kuat dan bisa dipakai ketat. Setelah itu, coba pakai terus-menerus—kecuali mandi, tentunya— sampai beberapa hari. Setelah dapat tiga hari, sampean ke sini lagi ya?” “Begitu ya, mas Lintang?” tanyanya. “Apa hubungannya dengan sakit saya?” “Celana jeans kan ketat, jadi pantat sampean bisa tertekan terus, seperti terus-terusan dipijat. Siapa tahu ada akibatnya jika terusterusan seperti itu.” Begitu aku menjelaskan alasan yang sebenarnya kubuat-buat sendiri. Aku sendiri masih mencoba-coba. Tak ada salahnya kan mencoba-coba, siapa tahu ada dampak positifnya. “Cuma begitu?” tantang pak Misdi. “Ya, sementara begitu dulu,” kataku. “Nanti kalau ada kemajuan kita teruskan sampai benar-benar hilang rasa sakit sampean. Kalau tidak bekerja, kita akan cari cara lain.” Begitulah kesimpulanku. Selanjutnya, kami berbincang-bincang untuk sekian lama hingga akhirnya terdengar beberapa ayam jago milik tetangga sebelah sudah berkokok. Tanda waktu itulah yang wawan—eko—yulianto © 2008... 55 kupakai. Aku heran, kenapa juga ayam jago selalu berkokok pada pukul satu—lebih sedikit atau kurang sedikit. Seperti tahu diri, pak Misdi segera pamit pulang. Dia memberikan beberapa linting rokok. Aku menolaknya dengan halus. Aku merasa tidak melakukan apa-apa buat dia. “Nanti saja lah, Pak, kalau sampean benar-benar sudah sembuh,” kataku dengan sangat halus. “Nanti, kalau sudah sembuh, mau kasih dua bungkus pun pasti saya terima. Kalau sekarang, rasanya kok kurang pantes.” “Ya sudah kalau begitu, saya pamit dulu mas Lintang,” dia pamit sambil turun dari pos kamling. Aku membantunya sampai ke sepeda. Dia berangkat pulang dan aku menuju rumahku yang tak jauh dari situ. * * * Tiga hari kemudian dia datang dengan memakai celana jeans ketat. Dia terlihat lebih muda saat itu. Tetap dengan sepeda kumbang yang sama, dia terlihat sangat gagah. Dia juga tersenyum-senyum saat mendekati pos siskamling. “Halo, mas Lintang,” sapanya. Aku menyahut dan tersenyum. Memang, dia terlihat lebih bahagia. Aku mempersilahkannya untuk duduk nyantai di bagian pos siskamling yang tidak diduduki siapapun. Aku masih harus menyelesaikan pijatanku untuk pak Umar, tetangga sendiri. Dia sebenarnya sudah sejak tadi aku pijat. Sebenarnya juga, sudah sejak tadi dia bisa pulang. Dia memang menunda-nunda untuk pulang karena aku memang tidak wawan—eko—yulianto © 2008... 56 ada pelanggan lain. Lagipula dia tetangga dekat-dekat sini. Beginilah kebiasaan pelanggan di desa. Kalau orang dekat, biasanya dia suka berlama-lama, seperti berada di rumah sendiri. Begitu pak Misdi duduk, pak Umar segera berbasa-basi untuk pamit pulang. Dia juga memberikan sekitar dua puluh linting rokok dan sedikit kopi bubuk yang dibungkus dengan kertas kardus. Sepeninggal pak Umar, pak Misdi langsung mendekat dan tersenyum-senyum dan bilang: “Berkat saran sampean, mas Lintang, saya jadi lumayan bisa jalan-jalan santai,” katanya. Selanjutnya, dia juga tersenyum nakal. “Selain itu, saya juga jadi terlihat keren. Banyak gadis-gadis yang ke sawah melirik saya setiap pagi. Ah, benar-benar tak rugi saya merelakan seekor anak kambing yang agak besar untuk mendapatkan kain jeans yang sangat langka ini sekalian dengan ongkos menjahitnya yang sangat mahal. Tapi tak apa, untungnya dua: sembuh raga dan tenang jiwa. He he he.” “Lha bagaimana sih panjenengan ini?” tanyaku, agak tak bisa menahan tawa. “Sembuh kok tambah nakal. Wah, jadi merasa berdosa saya memberi saran. Ha ha ha. . .” Kami berdua tertawa tergelak-gelak. Kali ini, dia benar-benar tampak seperti orang yang tak pernah sakit. Tapi kemudian dia mulai lapor. wawan—eko—yulianto © 2008... 57 “Tapi ya itu, mas,” katanya memulai. “Saya ke sini karena memang saya masih merasa belum sembuh seratus persen. Rasanya masih agak nyeri. Saya khawatir rasa sakitnya akan semakin parah.” “Hmm. . . apa ya kira-kira yang membuatnya begitu.” Aku memeriksa keadaan pantatnya secara menyeluruh, mulai dari keketatan celana jeans-nya. Aku memperkirakan, sepertinya dia memerlukan celana yang lebih ketat lagi: “Ya, sepertinya sampean butuh celana yang lebih ketat lagi.” “Ketat bagaimana lagi?” protesnya. “Ini saja sudah bikin saya kesulitan menekuk lutut. Kalau ketat lagi, apa sampean pingin saya jalan seperti orang tak punya lutut, atau seperti robot? Sepertinya ini sudah paling ketat yang bisa saya pakai.” Aku berpikir ketat. Lalu, aku coba lagi pijat seluruh kakinya. Aku minta dia mengatakan bagian mana yang paling membuat dia merasa nyaman. Setelah lima menit memijat-mijat pantat pak Misdi, aku bisa menyimpulkan bahwa bagian yang paling penting adalah pantat kanannya. Sepertinya, inilah yang menjadi kunci mengapa dia masih berasa sakit. Perlu pijatan terus-terusan pada bagian ini. “Pak, apa sampean pernah mengalami kecelakaan yang mengakibatkan luka atau apa saja di bagian pantat kanan ini?” tanyaku. “Ah, tidak pernah, kok,” kata pak Misdi. wawan—eko—yulianto © 2008... 58 “Atau mungkin, pantat sampean pernah terpukul sesuatu yang keras?” tanyaku. “Tidak, kok,” jawabnya. “Bahkan, dulu bagian ini selalu terlindungi. Saya dulu selalu membawa dompet. Biasanya sih tebal. Saya ini dulu makelar tanah dan punya banyak rumah yang saya jual belikan. Dompet saya selalu tebal.” “Nah, itu dia,” teriakku senang. Aku memang tahu, setelah menanyakannya kepada para tetangga, bahwa Pak Misdi adalah salah satu orang paling kaya di kabupaten ini, pada jaman sebelum nilai uang anjlok dan orang-orang memutuskan untuk tidak memakai uang. “Mungkin sampean perlu membawa dompet lagi. Kelihatannya akan membantu.” “Lha!” sentaknya, matanya terbelalak. “Sampean ini bagaimana sih? Lagian, di jaman seperti ini, buat apa bawa dompet. Lha wong uang saja tidak ada harganya. Kita sudah nggak perlu uang. Apa gunanya uang kalau nilainya tambah turun? Uang itu cuma—” “Tapi, Pak, dompetnya saja yang sampean pakai,” potongku, aku tak ingin dia salah sangka. “Tak perlu ada uangnya, yang penting tebal.” “Saya belum selesai, mas,” tegasnya. “Tidak! Terima kasih! Saya selalu takut kalau ada yang bilang uang, apalagi melihat dompet. Sampean membuat saya ingat uang berjuta-juta hasil penjualan tanah saya tiba-tiba anjlok nilainya dan tak bisa dipakai bahkan untuk membeli sepeda motor. Sudahlah. Jangan sekali-kali sampean wawan—eko—yulianto © 2008... 59 menyuruh saya bawa dompet. Sampean ingin saya mati jantungan ya? Sampean. . .” Pak Misdi berteriak-teriak, wajahnya sengit, kata-katanya penuh makian dan tak pantas saya tuliskan di sini. Nyaris panas kupingku, tapi aku sadar semua itu salahku. Tak semestinya aku mengusik soal uang dengan mantan orang-orang superkaya. Dia langsung bangkit dari pos siskamling dan melemparkan sekantong tembakau yang sedari tadi dia bawa di dalam tasnya. “Sudah, mas Lintang, ini bayaran sampean. Sedot sana sampai dower. Terima kasih!” * * * Sejak itu, pak Misdi tak pernah lagi datang ke poskamling tempat praktekku. Bahkan, bertemu pun dia hanya (terkadang) senyum dan menyapa sekedarnya. Tapi, yang paling pasti adalah dia sekarang selalu membawa semua kunci rumahnya di kantong kanan belakang celana jeans-nya. Orang-orang bilang dia hanya tidak ingin pegawainya berbuat macam-macam dengan rumah-rumahnya, jadi dia bawa sendiri semua kunci rumahnya. Dan ternyata itu semakin membuatnya tampak mempesona. Semua wanita di seluruh desa Lumbung Layu jadi tahu bahwa pak Misdi ini punya banyak rumah. Bahkan, kabar burung terakhir yang kudengar, dia punya istri muda dari dusunku. wawan—eko—yulianto © 2008... 60 K ECELAKAA N Baik, aku akan mulai cerita. Tapi, tolong berjanjilah untuk tidak menertawakan ceritaku ini betapapun layaknya ia ditertawakan. Begini ceritanya: Suatu hari di masa depan, Misdi dipulangkan ke desanya dengan mobil ambulans. Kakeknya menyambut mobil ambulans itu dengan gemetaran. Maklum, sudah lama dia tidak melihat ada mobil masuk desanya. Sekali-kalinya ada mobil memasuki desanya, mobil itu masuk ke halaman rumahnya. Yang semakin membikin kakek kaget adalah: Dari pintu belakang ambulans, keluar Misdi dengan berjalan dibantu seorang suster dan perawat laki-laki. Wajah Misdi terlihat serba aneh. Tatapannya sangat konyol. Dia terlihat terus-terusan meringis, dia menahan sakit. Tangannya terbebat perban, begitu juga sebagian kakinya. Dia beberapa kali memiringkan kupingnya dan mengangkat pundaknya hingga kuping dan pundak itu bersentuhan. Dia melakukan itu beberapa kali. Terkadang, karena kuas puas, Misdi sampai mengangkat telapaknya dan menepukkannya ke kuping. Misdi memakai baju rumah sakit. Sementara itu, di tangan kanannya dia membawa sebuah kantong plastik. “Pak, kami datang untuk mengantarkan Misdi,” kata perawat laki-laki. “Apa benar saudara Misdi ini cucu Anda?” “Oh, benar, Mas,” kata Kakek. “Dia memang cucu saya. Bikin ulah apa lagi dia?” wawan—eko—yulianto © 2008... 61 “Bukan ulah kok pak,” kata perawat. “Ada kecelakaan di pabrik, dia jadi korban.” Suster mengantar Misdi masuk ke ruang tamu. Sementara itu, perawat menceritakan duduk persoalannya sambil duduk di lincak, bangku bambu yang ada di teras. Sehari yang lalu Misdi mengalami kecelakaan. Pada saat si perawat bercerita panjang lebar, si suster mendudukkan Misdi di kursi tua ruang tamu. Dia juga membuka bungkusan yang ternyata berisi obat itu. Dia jelaskan kepada Misdi pil warna apa yang harus diminum berapa kali. Misdi saat itu masih terlihat konyol, seperti linglung. Setelah semuanya selesai si suster pamit dan berpesan kepada Misdi untuk segera kontrol ke klinik saat ada apa-apa. Perawat laki-laki juga baru saja menyelesaikan ceritanya. Dia beranjak dari lincak tempatnya duduk berbincang-bincang dengan kakek Misdi. Mereka pamit akan kembali ke kota, ke klinik pabrik tempat tugas mereka. Kakek mengucapkan terima kasih sebesarbesarnya kepada perawat dan suster. Bahkan, saking besarnya rasa terima kasih yang ingin dia sampaikan, kakek menawarkan untuk memberi oleh-oleh beberapa batang ketela pohon. Tapi, karena harus menunggu sebentar hingga kakek selesai mencabut ketela pohon. Dia sudah bersiap untuk mencabut ketela pohon yang tumbuh di sebelah kiri rumah. Namun, karena mereka buru-buru, perawat dan suster pun memutuskan untuk langsung berangkat ke kota. Akhirnya, dengan wajah malu-malu, kakek membiarkan kedua perawat itu masuk ke wawan—eko—yulianto © 2008... 62 ambulans dan meninggalkan rumahnya. Kakek mengantarkan sampai ke gerbang pekarangan. selain Sebenarnya, tidak ada pagar untuk pekarangannya tanaman beluntas. Sambil tangannya memainkan daun beluntas yang dia raba-raba dan sesekali remasremas, kakek melepas ambulans sampai mobil itu tertelan tikungan dan terhalang oleh rumah bambu milih tetangga. Setelah mobil ambulans itu tak lagi menyisakan bunyinya derumnya, kakek berjalan lesu kembali ke rumahnya. Di pekarangannya, dia melewati hamparan kayu kering yang akan dia gunakan untuk memasak. Sementara itu, di ruang tamu, Misdi duduk sambil meringis sendirian. * * * Omong-omong, apa yang sebenarnya terjadi padanya kemarin sore itu? Baiklah, beginilah jalan cerita yang sesungguhnya: Sore itu, di tempat Misdi berkeliling pabrik tempat kerjanya. Dia adalah tukang sapu yang bertanggung jawab atas kebersihan beberapa gudang besar. Misdi akan memasuki sebuah gudang sambil membawa sapu. Di depan pintu, dia melihat dua orang berlari meninggalkan ruangan itu. Dia curiga dengan apa yang mereka lakukan. Dia memasuki gudang. Di sana dia melihat beberapa kayu yang bertumpuk-tumpuk itu sedang terbakar. Dia kebingungan mencari apa yang bisa dipakai untuk memadamkan api. Biasanya, dibutuhkan air atau semacam keset untuk mematikan api semacam wawan—eko—yulianto © 2008... 63 itu. Misdi melihat sekeliling Misdi tapi tidak bisa menemukan keset ataupun air. Misdi langsung melihat pintu ruang mesin. Dia sebenarnya dilarang memasuki ruangan itu. Tapi dia harus mencari sesuatu untuk mematikan api tersebut. Akhirnya dia berjalan ke sana. Dia berharap bisa menemukan sesuatu. Dia dobrak pintu ruangan mesin tersebut. Dia melihat sebuah benda sebesar pos penjagaan. Benda itu berderu terus-menerus. Dia belum pernah lihat sebelumnya. Yang jelas, Misdi benar-benar terpesona dengan benda besar itu. Segera saja dia celingukan, dia tak ingin melupakan apa yang sedang dia cari. Di sebuah sudut sana, dia melihat sebuah jeriken besar, mungkin isinya 25 liter. Hah, untunglah! Dia segera mengangkat jeriken tersebut. Jelas sekali, isinya memang cairan. Ada sejumlah tulisan pada jeriken tersebut. Tapi, dia tak ingin membacanya. Dia memang tak bisa membaca. Apa perlunya membaca. Membaca tidak bisa mematikan api. Dia langsung mengangkat jeriken itu ke atas pundaknya. Dengan sedikit berat dia memikul tong tersebut. Sesampainya di dekat api, dia segera memuntir tutup jeriken itu. Dengan segenap tenaga, dia membuka penutup itu. Terlihatlah memang, di dalam jeriken tersebut ada cairan. Dia mencium aroma yang berbeda dari cairan itu. Apalah itu, yang jelas, itu adalah air. Air, musuh api. Misdi segera memiringkan jeriken itu dengan harapan segera bisa dia gerojogkan isinya ke atas kayu yang sedang menyala wawan—eko—yulianto © 2008... 64 itu. Tapi, sebelum benar-benar bisa dia angkat, tong itu sudah mengucurkan air yang tiba-tiba mengarah ke api. Dia sudah senang karena air itu seperti tahu apa yang diinginkannya. Tapi aneh, begitu airnya itu menyentuh api, bukannya terjadi suara “cessss” tanda air yang sedang ditempa panas, yang terjadi malah api seakan berjalan di atas cairan itu. Belum lagi dia selesai terpana melihat api berjalan di atas airnya itu, tiba-tiba jeriken yang dia bawa meledak. Dia segera melihat api menyelimuti tangan dan bajunya. Dia terperangah tak terduga. Dia mundur beberapa meter dengan bunyi berdenging di telinganya. Kemudian dia melihat beberapa petugas membawa tangki pemadam berwarna merah dan menyemprotkan isinya ke tangan dan tubuh Misdi. Dia segera tak sadarkan diri saat itu. . . * * * Kembali ke desa si Misdi lagi, kini si kakek menasehati Misdi. “Yah, itulah salahmu, salah kita,” kata kakek. “Salah kita itu cuma satu: bodoh.” “Maksud kakek,” kata Misdi. Dia mulai membenarkan posisi duduknya. Dia masih terlihat meringis. Dia beberapa kali terlihat menepukkan telapak tangannya ke kuping. Bunyi berdenging itu belum juga benar-benar hilang dari kepalanya. “Apa maksud kakek kita bodoh?” wawan—eko—yulianto © 2008... 65 “Ya, bodoh kamu itu,” kata kakek. “Kamu dulu tak sekolah, kamu tak bisa baca. Kamu tak tahu kalau yang kamu siramkan ke api itu bukan air tapi bensin.” “Apa itu bensin?” kata Misdi. “Sumpah, kakek, yang saya siramkan ke api itu air. Benar-benar air. Lha wong bisa menetes kok, sangat encer. Meskipun. . . memang sih baunya sangat menyengat.” “Itu juga salahmu lagi,” kata kakek. Dia berhenti sejenak untuk menghisap rokoknya. “Kamu tak pernah belajar sejarah sih. Kamu pasti tidak tahu yang namanya bensin. Dulu, pada jaman orang tua kakek, kita tidak hanya memakai korek api dan kayu aja untuk memasak. Kita juga butuh kompor dan minyak tanah, cairan yang bisa menyala. Lha saudararanya minyak tanah itu ada yang namanya bensin. Yang itu lebih kuat lagi. Yang kamu siramkan ke api itu ya bensin itu. Sekarang adanya Cuma di luar negeri dan di pabrik-pabrik itu.” “Air yang bisa terbakar?” Misdi terpekur. “Ya, bukan hanya kayu yang bisa terbakar,” kata kakek. Dia bersiap-siap untuk melanjutkan ceritanya, tapi tentu saja setelah satu kali sedotan rokoknya. “Dulu ada banyak air yang bisa terbakar. Makanya, beberapa bulan yang lalu, waktu kamu bilang ada kendaraan pabrik yang bisa mengeluarkan asap tapi tidak terlihat membawa kayu, kakek jadi pingin tertawa. Kamu itu semestinya dulu sekolah, biar tahu sejarah. Biar tahu ini itu. Bukan seperti sekarang, malah wawan—eko—yulianto © 2008... 66 celaka gara-gara tidak tahu sejarah. Dulu, waktu kita ini masih merdeka, ada presiden yang suka bilang ‘JAS MERAH:’ jangan sampai melupakan sejarah! Moga-moga nanti anakmu bisa sekolah. Biar tahu sejarah.” Begitulah kecelakaan yang dialami Misdi. Setelah sembuh dari kecelakaan itu, dia jadi lebih hati-hati melihat air. Dia tak mau lagi salah. Saking hati-hatinya, sempat suatu kali dia tak mau mandi ketika air sumurnya jadi berbau setelah hujan dua hari. Dia bahkan sampai tak berani merokok dekat kamar mandi saat itu, dia takut air di kamar mandinya sudah berubah jadi bensin. Bagaimanapun, Misdi tetap hidup bahagia selamanya. wawan—eko—yulianto © 2008... 67 S IBUKNYA IZRAIL itu si Izrail? Bagaimana dia musti “Wah, bagaimana mewawancarai jenasah?” kata Misdi iseng di tengah-tengah temannya yang bercerita bahwa putri seorang guru besar tewas dalam kecelakaan pesawat. Pesawat meledak. Di puing-puingnya tidak diketemukan jasad si putri. “Terus lagi, kematiannya juga pada hari Selasa Pahing, biasanya akan diikuti kematian-kematian lainnya,” kata Misdi lagi menghubungkannya dengan sebuah mitos, Banyak yang masih percaya bahwa kematian pada Selasa Pahing akan membawa kematian lain pada orang-orang sekitarnya. Entah kebetulan atau memang berhubungan, seorang doktor meninggal tepat seminggu setelah kematian putri guru besar. Tiga hari setelah sang Doktor meninggal, istri seorang dosen meninggal dunia. “Pasti malaikat maut divisi kampus kita sedang kerepotan menjalankan tugasnya. Menit ini di sini, menit selanjutnya di sana,” begitu kata Misdi lagi. Izrail melirik saat mendengar Misdi mengatakan itu. “Sok sekali anak ini. Belum pernah kenal aku ya?” batin malaikat maut sambil bercokol di dalam sebuah lukisan pada dinding warung tempat Misdi berbincang-bincang dengan temannya. Tapi, jika dipikir-pikir, tugasnya memang lumayan berat akhir-akhir ini. Dia musti mencabut nyawa wawan—eko—yulianto © 2008... 68 beberapa orang penting yang sebenarnya secara pribadi sangat baik dan halus. Setiap kali datang memo pencabutan nyawa, dia selalu mengamati dulu orang yang dimaksud. Pada saat dia mendapatkan memo untuk mencabut nyawa putri guru besar, dia memutar otak semaksimal mungkin untuk mencari cara pencabutan nyawa yang tak terlalu menyakitkan. Perempuan itu memang terkenal sangat santun. Saat itu, dia langsung menghubungi Rokib dan Atid, malaikat penjaga hati, untuk meminta bantuannya. Mereka berdua membujuk si putri untuk melakukan penerbangan udara mengunjungi suaminya yang bekerja di Papua. Rokib dan Atid membujuk si putri guru besar untuk terbang ke Sulawesi dulu mengunjungi mertuanya. Mengapa Rokib dan Atid mengarahkannya ke Sulawesi? Karena menurut buku nasib, akan ada kecelakaan pesawat jurusan Sulawesi. Di atas pesawat itulah dia pertemukan si putri dengan calon jenasah yang lain. Akhirnya, terjadilah ledakan di pesawat itu. Si putri terlibat dalam ledakan itu tidak terlalu mendapatkan rasa sakit saat dia masuk ke alam kematian. Izrail butuh waktu seminggu untuk mengatur kematian si putri, mulai ketika dia menerima memo hingga si putri meninggal dunia. Hasilnya: kematian yang tak terlalu menyakitkan untuk seorang perempuan yang halus budinya. Terus lagi, saat seorang istri dosen meninggal, Izrail juga tidak hanya mencabut nyawanya begitu saja. Membutuhkan sejumlah upaya untuk mengeluarkan nyawa si ibu dari raganya. Begitu dia menerima wawan—eko—yulianto © 2008... 69 memo pencabutan nyawa, dia langsung mengamati calon jenasah. Lagi-lagi dia mendapati istri dosen itu seorang yang selalu berbicara sopan bahkan kepada tukang sayur di ujung jalan kompleks perumahan dosen, ataupun kepada pembantunya yang sangat lugu dan sering melakukan kesalahan. Akhirnya, setelah melihat catatan kesehatannya, dia tahu bahwa si istri menderita penyakit jantung. Akhirnya, dia buat si istri mendapatkan kesenangan selama tiga hari. Dia mendapat kabar dari putrinya bahwa mereka akan mengusahakan agar si ibu naik haji. Si istri dosen sangat senang hingga dua hari kemudian tiba-tiba diberi kabar bahwa anaknya mendapatkan kecelakaan. Akhirnya, si ibu langsung terkena serangan jantung dan meninggal dunia. Izrail tetap memperhatikan Misdi berbincang-bincang dengan teman-temannya. Kalau dibilang sibuk, memang dia sangat sibuk. Mencabut nyawa itu bukan pekerjaan gampang seperti memangkas rumput lapangan dengan pisau baling-baling. Mencabut nyawa butuh strategi dan tak tik, terutama saat yang dicabut nyawanya adalah orang yang baik. Izrail yang satu ini kenal secara langsung dengan Izrail yang mencabut nyawa Rasulullah. Pencabutan nyawa Rasulullah adalah prestasi sebesar para Izrail. Itu karena pencabutan ini terkenal sebagai pencabutan paling tidak sakit, meskipun katanya serasa tiga ratus kali bacokan pedang. Memang, manusia tidak akan pernah tahu wawan—eko—yulianto © 2008... 70 rahasia pencabutan nyawa. Tak heran jika Misdi begitu meremehkan pencabutan nyawa dan terkesan kurang mempercayai adanya Izrail. Malaikat maut mendapat dua memo pencabutan nyawa. Yang pertama adalah pencabutan nyawa seorang dosen di Fakultas Sastra. Beliau ini adalah seorang dosen yang sangat tenang dan disukai mahasiswanya. Sejak dua bulan kemarin sudah tergolek di rumah sakit karena gangguan Kini, pernafasan. tidak Untung saja, dia tidak tergolek mencabut kesakitan. dia perlu berepot-repot untuk nyawanya. Malam itu, malaikat maut langsung mendatangi rumah sakit tempat si dosen dirawat dan membangunkannya tengah malam. Malam itu, dia beri si dosen lamunan-lamunan indah tentang anakanaknya yang beberapa diantaranya menempuh kuliah di luar negeri. Dia merasa didatangi putri-putrinya itu. Dalam kebahagiaannya itu, malaikat maut melolosi nyawa dari tubuhnya. Jadilah, pak dosen meninggal dunia dalam keadaan tersenyum. Sehari setelah kematian di dosen sastra, dalam perbincangan di warung yang sama Misdi berkata, “Wah, memang gila-gilaan nih sang malaikat maut. Siapa lagi ya yang ada di daftarnya setelah pak dosen?” Setelah berbicara seperti itu, Misdi meninggalkan warung tersebut untuk kembali ke suatu tempat. Malaikat maut baru saja masuk warung ketika Misdi mau keluar. Dia tadi sempat mendengar kata-kata Misdi. Malaikat maut hanya geleng-geleng kepala melihat wawan—eko—yulianto © 2008... 71 anak sesombong itu. Tapi, dia harus obyektif, tidak boleh membenci manusia. Sambil masuk di dalam lukisan, dia buka lagi memo yang ada. Di kertas itu, tertulis Misdi 24 tahun. “Tak salah lagi, pasti ini Misdi yang itu,” batin malaikat. Bagaimanapun, dia tidak langsung berangkat, dia ingin memberi si Misdi itu sedikit kesempatan sebelum nyawanya benar-benar melayang. Kemudian, pada siang harinya ternyata Misdi mendapatkan kecelakaan. Dia mendapatkan luka-luka yang lumayan parah. Dia dibawa ke rumah sakit. Malaikat maut mengikuti saat kursi rodanya dibawa masuk ke ICU. Dia sudah bersiap menarik saja rohnya ketika dia teringat sesuatu. Dia teringat bagaimana Misdi selalu mempermainkan dirinya di hadapan manusia lain. Dia bisa saja mencabut nyawa Misdi saat itu juga, namun dia memilih untuk membiarkan Misdi merasakan dulu. Saudara-saudara, aku tak tahu kapan malaikat maut akan benarbenar mengambil nyawa Misdi. Yang jelas dia masih belum mengambilnya sampai saat ini. Ingat, itu bukan karena dia menyukai Misdi. Tapi, itu karena dia ingin melihat Misdi merasakan derita dan menyadari bahwa tugas mencabut nyawa itu bukan tugas gampang yang layak diremehkan . . . wawan—eko—yulianto © 2008... 72 ONE WORKING DAY IN THE LIFE OF A HIGH OFFICIAL “Pak, surat dari Greenpeace baru saja masuk,” kata Rania, dia menaruh sebuah amplop besar yang sudah dibuka. Di dalamnya terdapat satu bendel ukuran kuarto. “Kalau saya baca laporannya sekilas tadi, sepertinya dalam waktu dekat mereka akan membuat artikel yang akan dimuat di National Geographic.” “Kita kementrian. Sukotjo lalu menyisihkan amplop itu ke sudut kiri meja. Kemudian, dia melanjutkan mengagumi sejumlah perangko koleksi yang dia pasang di bawah kaca pelapis mejanya. Di sana terdapat beberapa puluh perangko bergambar presiden pertama dan kedua. Salah satunya kini sedang sakit (keras?) di rumah sakit terkenal ibukota. * * * tampung saja dulu,” kata Sukotjo, pejabat sebuah Kesibukan seharian itu tidak terlalu ketat. Banyak sekali waktu luang Sukotjo. Beberapa kali dia terlihat berbicara di telepon hanya untuk memastikan jalannya sebuah proyek yang sudah seminggu, sebulan, atau beberapa bulan yang lalu dia setujui. Sempat juga dia surfing dan mengunjungi situs-situs yang berhubungan dengan uang cepat, kasino online dan sebagainya, dan sempat pula dia membuka wawan—eko—yulianto © 2008... 73 dan mengirim email ke sejumlah teman yang sedang berada di negara-negara lain untuk urusan dinas atau pelesir. Baru pada pukul 11.30 Rania mengabarkan kepadanya: “Pak, saya baru baca email terbaru dari rainbow_warrior@greenpeace.org. Mereka memberi kepastian bahwa mereka sudah dapat slot di National Geographic edisi dua bulan lagi.” “Hmm. Serius sekali mereka,” Sukotjo tersenyum mencong. “Laporan mereka tadi sudah . . .” Sukotjo membuka-buka tumpukan kertas-kertas dan bendel-bendel proposal yang ada di sudut kiri mejanya, dekat papan namanya yang terbuat dari perak. “Ah . . . sudah, ada di sini kok.” Sukotjo memberi isyarat akan membaca bendel yang ada di dalam amplop surat dari Greenpeace. Laporan itu digarap dengan perwajahan yang bagus. Pada banyak halaman, terdapat foto-foto yang dicetak dengan printer kualitas bagus langsung pada kertasnya. Lembaran-lembaran itu sangat bagus dan diberi garis hijau sederhana pada bagian atasnya, benar-benar hasil desain yang berkelas. Gambar-gambar yang tercetak di sana rata-rata hampir sama dan cenderung membosankan: dua orang membentang bendera kuning bertuliskan “STOP FOREST CRIME” dengan latar belakang ratusan kubik kayu gelondongan; dua perahu motor karet yang membentangkan spanduk kuning dengan tulisan bernada sama dengan latar belakang sebuah kapal besar pengangkut kayu-kayu wawan—eko—yulianto © 2008... 74 gelondongan di belakangnya; orang-orang membentang spanduk bertuliskan “SAVE THE ANCIENT FOREST OF PAPUA” dengan latar belakang hutan tepi sungai yang hanya tersisa pangkal-pangkal pohonnya. Sukotjo hanya bertambah bosan. Dia baca lagi judul laporan itu. Ekspedisi Rainbow Warrior di Papua. Sukotjo meletakkan bendelan itu dan mengangkat gagang telepon. Dia pencet sebuah nomor ekstensi. “Rania, tolong kamu cek lagi sudah berapa pemegang HPH yang pesan Papua.” “Sebentar, Pak . . .” Suara Rania hilang sesaat dari pori-pori gagang telepon. Tertinggal suara-suara gemeretak lembut. Siapa saja tahu, itu suara keyboard komputer yang dipijat-pijat. “Emm, sudah ada dua belas . . . Tapi yang sudah jalan baru PT. Alas Alus milik Pak Mo Gli.” “Bagaimana laporan mereka?” “Belum masuk, Pak,” jawab Rania lagi, juga setelah beberapa detik sepi diiringi bunyi keyboard. “Telepon mereka dan kasih kabar tentang ulah Greenpeace.” “Ya, Pak,” kata Rania. “Tapi sepertinya mereka sudah tahu kok, saya tadi lihat kapal mereka di salah satu foto laporan Greenpeace.” Sukotjo kembali lagi menuju komputernya. Kali ini, dia mengecek alamat email kantor. Dia sempat sedikit lupa password-nya. wawan—eko—yulianto © 2008... 75 Memang enak punya sekretaris, segalanya ada yang mengerjakan, pikirnya. Dia lihat surat dari Greenpeace yang baru masuk itu. Ada yang terlewatkan Rania: ternyata orang-orang Rainbow Warrior itu juga sudah punya akses ke media di Indonesia. Bahkan, mereka sudah punya slot di Mitra TV. Tanggal 21 bulan ini hasil ekspedisi mereka akan diudarakan. Tiga hari lagi. Sementara ini, berurusan dengan Mitra TV memang agak sulit. Apalagi acaranya akan ditayangkan tiga hari lagi. Pasti promo-nya sudah keluar. “Hmm, tidak apa-apa . . .” kata Sukotjo. “Bencana di sini dan bencana di sana sudah cukup bikin orang-orang lupa makan. Tak akan ada yang tertarik dengan hutan Papua.” * * * “Pak, ada telepon dari Pak Mo Gli di line 4.” “Terima kasih, Rania,” Sukotjo segera menekan tombol 4 dan segera mendengarkan suara renyah itu. “Saya sudah transfer, Pak. Silakan hitung . . .” Begitulah katakata renyah itu. Pada latar belakangnya, terdapat suara lalu lintas yang lengkap dengan klakson, deru kendaraan, peluit tukang parkir. Semuanya terdengar seperti terbekap kaca mobil. Pembicaraan basa-basi sudah berlangsung sekitar lima menit. Sementara berbicara itu, Sukotjo menjepit gagang telepon di atas pundaknya dan jari-jarinya mengetik pada tombol-tombol di handphone flip-nya—konon, handphone dengan tipe seperti yang dia wawan—eko—yulianto © 2008... 76 pakai itu adalah barang wajib para pengusaha dan pejabat. Dia mengecek rekening kantor dan rekening pribadinya. Sesekali, dia juga sempat mencoret-coret, menghitung, di atas nota: angka-angka yang berjajar panjang. “Oke, Pak,” pungkas Sukotjo. “Sementara, masalah sudah teratasi.” Maka berakhirlah percakapan kedua orang itu dengan senyum di wajah Sukotjo dan tawa di pori-pori gagang telepon yang dia pegang. * * * “Rania, segera telepon Pak Misdi: Suruh dia mempersiapkan tim ekspedisi dan arahkan mereka ke kawasan Pangkal Puun, di Kaltim. Tahu kan? . . . Ya, lokasi logging yang sudah ditinggalkan PT Alas Alus. Suruh mereka bersihkan lokasi. Pastikan sudah tidak ada bukti-bukti yang mengarah ke PT Alas Alus. Terus, telepon juga Pak Lintang: Suruh dia mempersiapkan tim ekspedisi kedua dan arahkan ke kawasan yang sama sambil mengajak para reporter dan kameramen dari semua stasiun TV yang ada. Paling penting, pastikan Mitra TV juga ada. Hubungi juga Harian Koran, katakan bahwa dinas kita menemukan kawasan bekas illegal logging.” Rania menyelesaikan tugas-tugasnya itu dengan segera. Pak Lintang tersenyum puas begitu mendapat laporan dari Rania. Untuk sesaat dia bisa menikmati sisa hari. Begitulah mudahnya menyelesaikan masalah, batin Sukotjo. wawan—eko—yulianto © 2008... 77 Kemudian, dia melihat-lihat lagi perangko koleksi di mejanya itu. Dia mendekatkan telunjuknya kepada salah satu perangko terbesar dan terapik, sambil membatin: Pak, terima kasih atas ajarannya. Ini rekor terbaru saya: satu masalah dalam sehari. Saya akan mengunjungi Bapak nanti sore sepulang kantor. wawan—eko—yulianto © 2008... 78 KELUPASAN DAGING DI BAJU-BAJU Apa sih penyakit Mbak Rania? Aku tak tahu namanya. Tapi begini gambarannya: pada saat aku mencuci baju seragam TK-nya, aku menemukan kupasan-kupasan kulit dan daging nyaris di sekujur bajunya. Sepertinya sih tipis sekali, tapi begitu dikucek dan air sabun sisa cucian dibuang, maka kau akan menemukan sesuatu di dasar ember. Ya, kupasan kulit dan daging itu. Warnanya putih kekuningan dan bahkan agak kecoklatan. Saat akan kubuang, aku menjumputnya dengan jari-jariku, dan dapat satu genggam. Pernah dengar cecek, kulit sapi? Seperti itulah rasanya di jariku, begitu lembut tapi kenyal. Rasanya seperti memegan anak tikus atau cicak. Tiba-tiba aku ingin ke WC dan muntah di sana. Bagaimanapun, sebenarnya aku sendiri yang salah. Bu Sukotjo sudah berkali-kali memintaku memakai mesin cuci. Aku hanya mau memakai mesin cuci pada hari Minggu, ketika seluruh anggota keluarga ada di rumah dan bu Sukotjo atau Mbak Putri mau mengajari aku. Tapi pagi ini, saat sendirian, saat Mbak Rania pulang dengan belepotan warna kuning dari jus jeruk. Saya tak mau noda jus yang kuning itu itu mengering. Pasti nanti jadi sulit dibersihkan. Apalagi, ini masih minggu pertama mbak Rania sekolah TK, besok dia masih harus memakai baju ini. “Mbak Win, Rania tadi diajari mematikan air kalau keluar dari kamar mandi,” kata Rania, tadi rok Rania sampai basah.” wawan—eko—yulianto © 2008... 79 Setelah mencuci baju itu, saya langsung mandi besar biar kuman-kumannya segera hilang. Aku takut kalau-kalau penyakit Mbak Rania itu berbahaya. Pada hari Minggu itu aku tidak langsung mencuci baju keluarga Sukotjo. Aku sisihkan baju Mbak Rania dan lainnya aku cuci dalam mesin cuci. Tanpa sepengetahuan orang-orang di rumah, aku mencuci baju Mbak Rania pada hari Sabtu-nya, dengan memakai bak cuci biasa. Seperti sebelumnya, baju Mbak Rania mengeluarkan kupasan-kupasan saat kukucek. Kepada ibu Sukotjo saya bilang bahwa baju Mbak Rania kemarin agak kotor karena terkena tumpahan jus jeruk lagi. Saat itu, aku terpikir kebohongan apa lagi yang akan kupakai hari Minggu depan saat mencucinya. Seselesaiku mencuci atau seselesainya mesin cuci bekerja, aku membersihkan tabung mesin cuci. Ternyata di sana juga ada kupasan kulit dan daging. Tapi kali ini tidak sebanyak saat aku mencuci baju Mbak Rania. Apa kiranya orang-orang mulai ketularan Mbak Rania ataukah orang-orang itu sudah mulai sembuh tapi Mbak Rania sedang parah-parahnya. Aku tak tahu pasti. Yang jelas kupasan daging dari baju Mbak Rania sangat banyak. * * * Oh ya, biar kuceritakan tentang majikanku. Nama beliau Pak Sukotjo. Beliau berasal dari desa yang sama denganku, sebuah wawan—eko—yulianto © 2008... 80 kabupaten di Jawa Timur. Di sana, tidak banyak orang bersekolah tinggi. Kebanyakan lulusan SMP atau SMA, kecuali keluarga orang tua Pak Sukotjo yang sudah kaya sejak dulu. Bapak Pak Sukotjo adalah seorang dokter. Selain keluarga orang tua pak Sukotjo itu, kami semua ini bukan orang-orang beruntung yang bisa sekolah tinggi dan kerja kantoran yang enak. Bagaimanapun, kami orang-orang desa ini cukup bangga dikenal sebagai orang-orang yang kuat dan tidak rewel. Itulah kiranya yang membuat kami bisa menjadi pembantu-pembantu yang handal, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Konon, tak banyak daerah yang punya orang-orang rajin, kuat dan tidak rewel seperti kami. Karena itulah, jika orang-orang ibukota kenal salah satu orang dari daerah kami, mereka lalu akan bertanya “bisa nggak dicarikan tetangganya yang mau jadi pembantu?” Tapi, kini semakin sedikit diantara kami yang mau menjadi pembantu di ibukota. Para petangga dan temantemanku lebih memilih jadi pembantu di luar negeri. Cuma aku saja yang berbeda. Aku di sini, di ibukota, menjadi pembantu di keluarga Sukotjo. Di kampung, bapak Pak Sukotjo adalah seorang dokter yang sangat baik. Beberapa kali bapakku diobati tanpa harus membayar hanya karena kebetulan saja rumah, atau gubuk, bapakku tepat di belakang rumah Pak Dokter. Dan sekarang, saat Pak Dokter sudah wafat, tibalah waktunya bagiku membalas budi. Aku menjadi wawan—eko—yulianto © 2008... 81 pembantu untuk putra beliau, yaitu Pak Sukotjo ini, yang sebenarnya tak kukenal secara langsung karena usia kami terpaut terlalu jauh. Pak Sukotjo dulunya adalah seorang pengusaha. Dia pernah pulang ke desa dengan membawa sedan yang mengkilap-kilap. Kalau tidak salah, warnanya hitam. Itu dulu, dulu waktu aku masih kecil. Kini, Pak Sukotjo sudah jadi pejabat dan kurasa penghasilannya jauh lebih banyak dari dulu. Lha wong rumahnya saja segede ini di kompleks perumahan orang-orang kaya. Beberapa kali Bu Sukotjo mengajakku ke supermarket. Di sepanjang perjalanan keluar dari kompleks perumahan ini, aku lihat rumah-rumah tetangga yang sama-sama sangat mewah, warna-warni, dengan pilar-pilar beton berukir. Tapi, lagi-lagi, aku jadi heran dengan penyakit anaknya. Apa sih penyakit mereka itu sampai-sampai kulitnya mengelupas dan bahkan sedikit bagian dagingnya juga ikut? Baru kali ini aku meilhat sakit yang seperti ini. Memang sih, tak semengerikan kusta, tapi jelas-jelas aku sudah dibikin muntah-muntah. Bahkan, tadi malam aku sempat mimpi buruk. Kulitku mengelupas dan dagingku rontok sedikit demi sedikit. Sebenarnya aku sudah siap untuk mengabdi di sini selamanya, bahkan sampai nanti setelah aku kawin. Tapi, maafkan saya gusti jika saya sempat sedikit terpikir untuk mengundurkan diri. Mungkin, aku akan sedikit lega bila kuceritakan ini pada seseorang. Tapi, kepada siapa? Apa mungkin aku menanyakan kepada bu Sukotjo? Mustahil. Memangnya aku ini dokter, berani-berani tanya wawan—eko—yulianto © 2008... 82 tentang penyakit orang. Ah tidak. Biarlah begini saja. Kata guru mengajiku dulu, semakin seseorang menderita di dunia, semakin sedikit deritanya di akhirat nanti. * * * Pada suatu pagi aku kenal seseorang selain orang-orang di rumah ini. Ceritanya waktu itu Mbak Rania ngambek karena kehabisan jeruk untuk dijus. Bu Sukotjo memintaku membeli ke tukang sayur yang kebetulan pada waktu itu sedang lewat. Aku segera keluar dan di sanalah aku kenal dua orang lain di Jakarta selain orang-orang di rumah. Orang itu adalah Bang Mail si penjual sayur dan Mbak Tinah, pembantu tetangga sebelah rumah yang juga sedang berbelanja. Begitu selesai membeli jeruk nipis, aku langsung pamit ke teman-teman baruku itu. “Kok, buru-buru, Mbak Win?” tanya Mbak Tinah. “Iya, Mbak, jeruk nipisnya ditunggu Mbak Rania. Dan lagi, tugas saya banyak, saya mau gini,” kataku sambil memberi isyarat mengucek pakaian. “Hah, sampean masih mencuci pakai gini,” katanya sambil juga memberi isyarat mengucek pakaian. “Ya . . . kadang-kadang sih,” kataku ragu-ragu, mau berhenti atau terus. “Maaf ya, Mbak, Bang, saya buru-buru.” wawan—eko—yulianto © 2008... 83 “Ya sudah, cepat, nanti saja saya telepon. Kita ngobrol, menggosip. Jangan kuatir, saya tahu semua nomor telepon di kompleks sini.” Begitulah perkenalanku yang singkat dengan teman-teman yang akhirnya memberiku sedikit petunjuk kepada ketakutan-ketakutanku selama berminggu-minggu itu. Setelah makan pagi itu, keluarga Sukoto pergi tamasya berenang ke sebuah hotel. Sekitar pukul 12.00, saat aku sendirian saja di rumah, ada telepon. Setelah agak ragu-ragu apakah itu dari Mbak Tinah atau dari orang lain, akhirnya kuberanikan diri mengangkatnya. “Halo, Mbak Win ya?” kata yang di seberang telepon. “Ya, benar. Mbak Tinah ya?” “Iya . . . Eh, aku pingin ngomong soal tadi,” katanya dengan agak merendahkan suaranya. “Kenapa kamu masih suka cuci-cuci pakai tangan. Kok tidak pakai mesin?” “Eh, itu Mbak, saya tadi mencuci baju saya sendiri, kok,” kataku. “Ditambah satu bajunya Mbak Rania ngompol. Kan tidak enak kalau jadi satu sama baju lainnya di mesin cuci.” “Wah, saya sudah lupa kapan terakhir kali saya cuci pakai tangan,” katanya dengan nada agak sombong. “Saya selalu cuci baju dengan mesin cuci sekarang, meskipun itu baju saya sendiri. Sembunyi-sembunyi juga, sih.” wawan—eko—yulianto © 2008... 84 “Wah, kamu berani, pasti sekarang sudah pinter pakai mesin cuci.” “Pinter bagaimana?” “Begini Mbak, salah satu alasan saya kurang suka pakai mesin cuci itu karena saya agak takut tidak bisa memakainya dengan benar,” kataku. “Saya takut salah, terus meledak. Kan ada listriknya.” “Alah, Mbak Win,” katanya kemudian tertawa lebar-lebar. “Kamu itu sekarang di Jakarta, bukan lagi di kampung. Semua orang pakai mesin cuci dan sampai sekarang belum ada ceritanya mesin cuci meledak.” “Begitu, ya?” balasku sambil meringis, padahal Mbak Tinah tidak mungkin melihat wajahku. “Tapi itu wajar, kok,” kata Mbak Tinah. “Saya dulu juga takut. Tapi takut itu langsung hilang sejak . . . lha, ini yang mau saya ceritakan.” “Apa mbak?” aku tak sabar karena mendengar suara Mbak Tinah yang tiba-tiba jadi agak mencurigakan itu. Mbak Tinah menceritakan tentang suatu saat ketika majikannya sekeluarga mengikuti pengajian Aa Gym di kompleks ini. Ternyata, nyonya majikannya yang berangkat terburu-buru itu kurang bagus saat memasang pampers, jadi agak miring. Di tengah-tengah pengajian, bayi yang digendong ibu majikan Mbak Tinah ngompol. Karena memasangnya kurang bagus, pampers si bayi sampai bocor wawan—eko—yulianto © 2008... 85 dan pipisnya membasahi baju nyonya majikan. Nyonya majikan segera pulang bersama bayi dan Mbak Tinah. Di rumah, Mbak Tinah segera ditugasi mencuci baju si bayi dan si nyonya. Karena cuma beberapa potong, Mbak Wina ngotot menguceknya dengan tangan, sementara itu si Nyonya dan si bayi segera kembali ke pengajian yang masih belum akan selesai itu. Nyonya sangat suka pengajian itu. Konon, baru kali itulah si nyonya majikan mengikuti pengajian. Selanjutnya, adalah tugas Mbak Tinah untuk mencucinya. Setelah dia rendam, baju-baju itu dengan sabun selama setengah jam, dia mulai menguceknya. Tak lama mengucek, dia langsung menjeritjerit sendirian di rumah itu. Dia melihat kupasan-kupasan kulit dan daging memenuhi baju si nyonya. Dia mencoba mencari tas plastik kecil untuk melindungi tangannya agar tak jijik. Namun, dia malah kesulitan mencucinya. Pada saat itulah dia merubah pendiriannya sebelumnya: sesedikit apapun cucian majikannya, dia harus memakai mesin cuci. Dia langsung menyalakan mesin cuci dan menuangkan rendaman pakaian itu ke tabungnya. Setelah selesai, dia mengambil kupasan-kupasan kulit itu dari dasar tabung mesin cuci. Bahkan, bajunya sendiri pun dia cuci dengan mesin cuci, takut kalau-kalau dia sudah ketularan. Dia berpikir, selama belum merasa gatal-gatal atau kulitnya merah-merah, dia belum akan ke dokter. wawan—eko—yulianto © 2008... 86 Bagiku, selesai mendengar cerita Mbak Tinah, aku merasa plong. Rasanya, seakan-akan aku yang menceritakan beban hatiku selama beberapa minggu itu. Dan saking leganya, aku sampai tanpa sadar mengatakan: “Lha itu juga saya alami di sini, Mbak.” “Kupasan kulit itu?” tanya Mbak Tinah cepat-cepat. “Iya, Mbak, waktu mencuci baju Mbak Rania sepulang dia sekolah, saya juga mendapati kupasan-kupasan kulit kecoklatan itu. Bahkan, sampai-sampai kupasan itu berlendir. Apa tidak lebih menjijikkan?” “Kok banyak, ya, yang terkena penyaki itu,” kata Mbak Tinah. Dia mendesah sebentar dan mengatakan: “Dasar orang-orang kaya1. Sakitnya macam-macam. Padahal dia, kan, pejabat? Kalau mau berobat pasti gratis.” “Amit-amit,” kataku sambil menepuk mulut. “Moga-moga kita tidak sampai ketularan.” “Moga-moga,” kata Mbak Tinah. “Tapi, kayaknya, cuma kayaknya, majikan saya sudah sembuh. Di dasar tabung mesin cuci sudah tak ada lagi kotorannya. Tapi memang sih saya belum pernah lagi mencuci tanpa mesin cuci. Saya masih trauma. Takut kalau-kalau masih ada kotorannya.” “Untung sampean, majikan saya kayaknya maish agak sakit. Tapi, saya tak bisa apa-apa. Takut dimarahi bapak saya kalau wawan—eko—yulianto © 2008... 87 melarikan diri dari sini. Lagian, Mbak Rania dan bu Sukotjo sngat baik. Lagipula, saya juga tak tahu arah pulang.” Ternyata, tak lama kemudian aku mendapati kupasan-kupasan daging dan kulit itu pada bajuku sendiri saat aku mencucinya. Aku pasrah saja dan menyerahkan segalanya kepada Tuhan. * * * Sejak saat itu, aku belajar memakai mesin cuci dengan lebih serius. Bagaimanapun, aku tetap mencuci baju-bajuku dengan tangan. Setelah beberapa waktu, aku tidak lagi menemukan kupasan-kupasan kulit dan daging pada baju-bajuku. Aku pun jadi senang dan tambah kerasa. Sekarang, aku sudah dua tahun tinggal di sini. Aku sangat senang. Setiap kali Pak Sukotjo pulang dari perjalanan ke luar negeri, aku selalu mendapat oleh-oleh dari pak Sukotjo. Memang aku cuma mendapat gantungan kunci atau hal-hal kecil lain, tapi toh itu sudah sangat bagus buatku yang cuma seorang pembantu ini. Mbak Rania juga tambah pintar. Dia sudah sangat jarang ketumpahan jus jeruk di bajunya. Aku tak pernah lagi harus buru-buru mencuci baju. Kalau cucian memang banyak, aku juga sudah sangat mahir menggunakan mesin cuci. Mesin ini tak mungkin meledak. Bahkan, ia membantuku menghemat tenaga sehingga aku bisa dapat waktu lebih banyak untuk memasak makanan-makanan asli daerah wawan—eko—yulianto © 2008... 88 kami yang sangat Mbak Rania gemari. Mbak Rania belum pernah pulang ke kampung kami. Maklum, kerepotan yang amat sangat tidak memungkinkan Pak Sukotjo pulang ke daerah sekali setahun. Bahkan, konon, sudah lima lebaran ini Pak Sukotjo mengirim mobil pulang untuk menjemput ibunya dan ibu bu Sukotjo dan mereka merayakan idul fitri di kota. Aku sendiri sudah pasrah menerima. Kalau pak Sukotjo mengijinkan aku pulang, ya aku akan pulang lebaran ini. Jika tidak, ya aku pasrah saja. Aku sudah punya sejumlah teman di sini. Mbak Tinah, katanya, jarang berlebaran di rumah. Oh ya, kami sudah sangat akrab. Kami sangat sering bertelepon, meskipun rumah tempat kami tinggal bersebelahan. Toh Pak Sukotjo orang yang sangat kaya dan tidak akan kesulitan membayar rekening telepon, meskipun membludak. * * * Lebaran tahun ini ternyata Pak Sukotjo bisa pulang dan aku pun pulang kampung bersama mereka setelah menitipkan rumah kepada sejumlah satpam yang Pak Sukotjo sewa dari sebuah tempat. Terlihat sekali betapa Mbak Rania sangat takjub dengan rencana pulang ke desa tempat ayah dan ibunya tinggal. Selama perjalanan tak hentihentinya Mbak Rania bertanya sedingin apa di desa. Dia ngotot membawa jaket kulit yang Pak Sukojo belikan waktu ada kunjungan ke wawan—eko—yulianto © 2008... 89 Singapura, meskipun ibunya sudah berkali-kali mengatakan bahwa tempat itu tidak sedingin Jepang. Di Rumah, bapak sangat, sangat senang aku pulang. Maklum, inilah pertama kalinya aku pergi jauh dari rumah—dan langsung selama dua tahun. Ibuku tak henti-hentinya mencium tangan Pak Sukotjo sampai-sampai Pak Sukotjo terlihat agak risih. Aku tinggal di rumah selama empat hari. Selama empat hari itu, aku sempat diajak adikku menonton wayang dan ikut pengajian halal bi halal. Baju yang kupakai untuk pengajian itu sangat bagus, hadiah dari bu Sukotjo. Karena aku ingin membawanya kembali ke Jakarta, maka aku mencucinya tepat pada pagi setelah acara halal bi halal itu. Aku mencuci di dekat sumur bersama adikku. Adikku mencuci bajunya dan aku mencuci bajuku sendiri. Sedang enak-enaknya mencuci aku dipanggil ibuku. Sepertinya bakal lama. Jadi kuminta adikku melanjutkan mencuci. Untungnya dia mau. Aku masuk dan berdandan. Sedang enak-enaknya berdandan, adikku menjerit-jerit. Aku ke belakang. Di sana, adikku duduk dengan ibuku berdiri panik tak jauh darinya. “Bu . . . ini apa?” kata adikku sambil menyeringai dan mengangkat kedua tangannya yang berlumuran busa sabun. “Ini apa, buuuu . . .” Kemudian dia kibas-kibaskan seperti orang yang tiba-tiba tahu ada banyak ulat merambat di tangannya. wawan—eko—yulianto © 2008... 90 Aku kuatir jangan-jangan kulitku mengelupas lagi. Aku segera melihat ibu dan adikku menoleh ke arahku. Mereka memandangku seperti aku ini anjing buduk. Kulihat pada tengan adikku. Tak ada apapun di sana. Dia tadi sudah mengibaskannya. Kulihat ke ember cucian. Tidak ada apapun di sana. Kuangkat bajuku yang bagus itu. Ibu dan adikku melihatku dengan jijik saat aku mengangkat baju itu. Tidak ada yang salah. “Apa itu?” tanya adikku sambil menunjuk bajuku. Bagaimana aku bisa menjawabnya sementara yang dia tanyakan aku tak tahu? wawan—eko—yulianto © 2008... 91 NEGERI KITA BELUM MERDEKA “NEGERI KITA BELUM MERDEKA!” begitulah kira-kira bunyi headline dua koran lokal menyusul “pemerkosaan” sebuah monumen kemerdekaan hasil sumbangan yang baru diresmikan. Dua minggu sebelum peringatan hari kemerdekaan, para veteran yang dulunya tergabung ke dalam tentara pelajar mengundang bapak walikota jalan di sebuah pemukiman. dan para wartawan ke sebuah sudut Di sana, wakil dari para veteran itu mengatakan kepada bapak walikota, “Kami sumbangkan Monumen Merdeka untuk kota kita . . . .” Sambil berkata, dia menarik kain yang menutupi sebuah bangun yang menjulang agak tinggi. Kain tersibak dan terlihatlah sebuah patung. “Kami harap, monumen ini bisa menjadi peringatan bagi generasi muda agar mereka menghargai kemerdekaan yang telah kami perjuangkan dan agar mereka bisa menggunakannya dengan sebaikbaiknya.” Bapak walikota menyatakan kegembiraannya dan berjanji akan mengelola monumen ini dengan sebaik-baiknya. Para wartawan mencatat kata-kata sang veteran. Maka, sejak itu kota memiliki sebuah monumen yang dikenal sebagai Monumen Merdeka. Monumen itu tak terlalu besar, tetapi sangat bagus. Ada pelataran bundar beralas beton dengan diameter sekitar tujuh meter. Di sekeliling lingkaran itu ada bangku juga dari wawan—eko—yulianto © 2008... 92 beton. Di sekeliling bangku beton terdapat bagian yang dikelilingi kawasan yang hanya tertutupi batu-batu kali berukuran tinju orang dewasa. Di tengah-tengah lingkaran itu terdapat sebuah patung tentara mengangkat tangannya yang terkepal, dengan wajah tersenyum, dan membawa buku di tangan kirinya. Sekalian dengan pedestalnya, monumen itu berukuran tinggi tiga meter. Pada pedestal patung terdapat tulisan “Merdeka! Kini saatnya bagimu menggunakan kemerdekaan inil!” * * * Misdi si tukang sampah bekerja setiap hari. Dia ambil sampah di depan setiap rumah dan dia masukkan ke gerobaknya yang berwarna kuning. Jika sampah dari semua rumah sudah dia ambil, dia tinggal berjalan ke tempat pembuangan sampah kelurahan. Selanjutnya, akan ada truk sampah yang membawa sampah hasil buangan para tukang sampah seperti Misdi. Tanggung jawab Misdi hanya mulai rumahrumah hingga tempat pembuangan sampah keluharan. Namun, sejak adanya Monumen Merdeka, bapak lurah memberinya tanggung jawab tambahan yaitu menjaga kebersihan Monumen Merdeka. Misdi berangkat pada pukul 2 dini hari. Saat banyak orang sedang kerepotan bermimpi, Misdi sudah keluar rumahnya menarik gerobak kuning dan berbaju kuning yang setiap hari dia pakai untuk bekerja itu. Baju dan gerobak Misdi sangat bau. Aromanya seperti campuran segala macam sampah. Saking seringnya dia pakai wawan—eko—yulianto © 2008... 93 berdekat-dekat dengan sampah, baju dan gerobaknya itu selalu bau. Bahkan, saat dia masih baru keluar rumahnya dan belum menyentuh sampah sama sekali, baju itu sudah berbau. Saat dia berjalan menuju tempat pembuangan sampah kelurahan, dia akan melewati sederetan rumah agak mewah. Di tengah-tengah deretan rumah agak mewah itulah terdapat monumen baru, Monumen Merdeka. Itulah tanggung jawabnya yang baru. Biasanya, dia sudah berada di sana pada pukul setengah empat. Tanggung jawab baru itu membuat Misdi jadi selalu berhenti di sana. Tidak banyak yang perlu dibersihkan, paling-paling dia hanya akan memungut sedikit sampah dan mengosongkan keranjang sampah yang ada di sana. Lalu dia akan beristirahat sejenak, sekedar melepas lelah. Dia selalu memarkir gerobaknya tepat di depan monumen itu dan berjalan ke bangku yang melingkari patung. Di salah satu sudut dia langsung memilih berbaring. Dia suka melihat tentara yang membawa buku itu. Yang selalu dia lakukan adalah meratapi kenapa dia menjadi tukang sampah. Sebenarnya dia tak ingin mengeluh seperti itu. Tapi, tanpa sengaja, hal itu dia lakukan sebagai dampak dari tekanan kehidupan yang dia hadapi setiap hari. Terlebih lagi, patung yang membawa buku itu seperti memandang dengan tatapan yang memahami. Seakan-akan si patung memahami keluhan-keluhan yang Misdi sampaikan dengan suara lirih itu. wawan—eko—yulianto © 2008... 94 Yang paling sering dia keluhkan adalah soal dana bantuan sosial dari pemerintah. Dia tidak terima atas perlakuan pihak kelurahan yang sangat tidak adil. Dia sudah memohon agar bisa mendapatkan bantuan tunai itu. Namun, pihak kelurahan tidak meloloskannya hanya karena dia sudah memiliki pekerjaan sebagai penarik gerobak sampah kelurahan dan mendapatkan gaji tetap. Sementara itu, seorang tetangganya mendapatkan bantuan tunai itu padahal dia punya sawah lumayan banyak di pinggiran kota. Alasan yang paling mudah adalah bahwa sawah tidak memberikan penghasilan yang tetap. Tapi, yang pasti, si penerima itu adalah keluarga dekat seorang pegawai di kantor kelurahan. Itulah yang paling layak dia keluhkan sambil berbaring di bangku beton yang dingin itu. Semilir angin fajar yang mulai menunjukkan dinginnya membuat dia bisa mengeluh dengan suara berlarat-larat. Kemudian, ketika dirasa cukup, Misdi segera bangkit dan melanjutkan perjalanannya ke tempat pembuangan sampah kelurahan. Begitulah kegiatan wajibnya sekitar pukul setengah empat pagi. Saking seringnya dia duduk di situ dan mengeluh kepada si patung, Misdi sampai merasa seakan-akan dia sudah mengenal dekat si patung. Dia seakan tahu kapan si patung siap menerima keluhannya dan kapan dia tidak bisa mengeluh dan hanya boleh duduk sambil memandangi si patung. wawan—eko—yulianto © 2008... 95 Yang paling sering dia katakan pada setiap kali akan meninggalkan si patung adalah, “Bagaimana bisa kamu tersenyum dan mengangkat tangan menyatakan kemerdekaan, sementara aku di sini hidup tak tenang? Jangankan hidup, tidur saja aku tak tenang!” * * * Pada malam hari kemerdekaan para pemuda karang taruna mengadakan acara tasyakuran di Monumen Merdeka yang sangat indah dengan bunga-bunga dan pelataran berlapis beton yang sangat bersih itu. Mereka mengadakan perenungan dan pembacaan doa-doa agar negara ini senantiasa dalam keadaan aman sentausa, agar rakyat bisa bahagia dan terjauh dari bencana, agar para generasi muda semakin bisa menjalankan pembangunan seperti yang diamanatkan para pahlawan. Selain itu, mereka juga menyanyikan lagu-lagu akustik bertemakan kemerdekaan, membaca puisi-puisi yang membakar patriotisme, dan juga—yang tak kalah pentingnya—mengheningkan cipta atas kepahlawanan para tentara pelajar dan angkatan tua pada masa revolusi. Acara berlangsung hingga lewat tengah malam. Semua orang sudah lelah dan mengantuk saat mereka mengakhiri acara. Keesokan harinya mereka akan menjadi panitia acara lomba-lomba kemerdekaan. Mereka juga sudah membawa pentungan kasti yang besok akan mereka pakai untuk lomba memukul kendi dengan mata wawan—eko—yulianto © 2008... 96 tertutup. Mereka memutuskan untuk tidak membersihkan sampah yang mereka tinggalkan. Mereka rasa waktu tidak memungkinkan untuk melakukannya. Mereka membiarkannya dengan asumsi Misdi akan lewat sini dan pasti akan membersihkannya. Sementara itu peralatan untuk lomba di keesokan harinya hanya mereka letakkan di belakang bangku yang tak bisa dilihat dari jalan. Mereka menutupinya dengan terpal. Benar saja, ketika pada pukul setengah empat Misdi lewat monumen itu dan ingin beristirahat barang sebentar seperti hari-hari biasanya, dia terkejut setengah mati. Dilihatnya monumen itu tak lagi nyaman: daun pisang bekas bungkus kue nagasari bertebaran di mana-mana, gelas-gelas plastik air mineral tampak sangat banyak di berbagai sudut, kantong-kantong plastik kue juga berserakan, dan ada juga kertas-kertas warna merah-putih yang entah habis dipakai untuk apa. Misdi bisa saja berlalu dan langsung menuju tempat pembuangan sampah kelurahan. Tapi nalurinya mengatakan orang-orang pasti akan mencercanya jika dia benar-benar melakukan itu. Maka, Misdi pun membersihkannya. Dia butuh waktu lebih lama untuk membersihkannya karena masih terdapat sebagian kue adonan beras pada daun-daun pisang bungkus nagasari. Kebanyakan bungkusbungkus pisang dan kotoran itu bertebaran di sekitar bagian yang hanya tertutupi batu-batu kali, terselip-selip diantara bebatuan. Hal ini merepotkan Misdi. Ditambah lagi, sebagian dari bekas-bekas itu sudah wawan—eko—yulianto © 2008... 97 mulai lengket pada bangku beton dan lantai monumen. Dia harus mengorek-ngorek. Dia butuh waktu sekitar setengah jam sendiri untuk membersihkan monumen itu. Dia tahu, nanti sekitar pukul sebelas siang, anak-anak karang taruna akan ke sini lagi dan mempersiapkan lomba-lomba ceria. Anak-anak Misdi pasti juga akan ikut lomba itu. Tak apa lah, pikirnya, anaknya pasti akan berbahagia. Dia senang sekali memikirkan itu. Tapi tetap saja dia geram saat harus melihat sampahsampah itu. Namun, dia jadi ingat betapa jengkelnya dia kepada para pemuda dan orang-orang di kelurahan. Orang-orang kelurahan itu menggajinya dengan bayaran yang tidak seberapa, tetapi mengharapkan dia bekerja dengan luar biasa berat. Contohnya pada hari ini, pada hari kemerdekaan dimana semestinya dia bisa berlibur, dia tidak mendapat libur. Bahkan, dia harus bekerja ekstra pada subuh hari seperti ini. Betapa anehnya ini, pikirnya. Mereka telah mempersulitnya mendapatkan dana bantuan sosial dari pemerintah sementara dia begitu berbakti kepada mereka. Dan sekarang, pada hari kemerdekaan, dia sudah membuatnya bekerja dengan lebih keras tanpa penghargaan semestinya. Menurut pengalamannya, jika sebuah tempat bersih, mereka tidak pernah berterima kasih kepadanya. Namun, pada saat suatu tempat umum kotor, mereka yang menyindirnyindir dirinya. Sungguh menjengkelkan. Ini bukan kemerdekaan. wawan—eko—yulianto © 2008... 98 Misdi yang sudah menemukan letak pentungan kasti di belakang bangku itu segera mengambil satu. Dia memanjat ke pedestal patung sehingga dia bisa menjangkau tangan si patung dengan pentiungannya. Dia ayunkan tongkat besi itu ke arah tangan si pahlawan yang sedang terkepal dan teracung di udara. Thang! Thang! Thang! Setelah beberapa kali, tampaklah pangkal lengan itu retak. Dia pukul lagi lengan yang kini sudah mulai bergoyang itu. Sebentar lagi tidak akan ada tangan yang mengacung tanda merdeka, pikirnya. Sebentar lagi kau akan putus. Ternyata, lengan itu tidak putus. Kerangka besi di dalam lengan membuat lengan itu tidak mungkin putus. Kini, Misdi memanjat lebih tinggi dan menarik lengan itu dengan kedua tangannya. Lengan beton itu berayun dan mulai bengkok. Pada akhirnya, setelah usaha yang melelahkan, lengan itu kini menghadap ke bawah. Ini baru bukan merdeka! Tapi masih kurang, pikirnya. Gambar pahlawan yang tersenyum itu masih membuatnya kesal. Misdi berlari ke depan monumen. Di sana terdapat batu-batu sebesar tinju orang dewasa. Dia ambil salah satu batu di sana. Kemudian dia memanjat lagi ke tubuh monumen. Dia pukuli wajah sang pahlawan sampai wajahnya benar-benar hancur dan tak ada lagi senyum di wajahnya. Nah, sekarang, tak ada lagi yang bisa bilang kita sudah merdeka, pikir Misdi. Kita masih belum merdeka, Pak Pahlawan! Saya masih terjajah, Pak Pahlawan! wawan—eko—yulianto © 2008... 99 * * * Maka, pada hari kemerdekaan itulah semua orang bisa melihat patung yang masih berumur dua minggu itu hancur tak berbentuk. Lomba-lomba hari kemerdekaan tidak jadi diadakan di sekitar monumen. Bahkan, setelah dirundingkan, pada akhirnya lomba-lomba itu tidak jadi diadakan. Baru keesokan harinya orang-orang tahu dari kejadian itu setelah membaca headline koran lokal yang berbunyi: NEGERI KITA BELUM MERDEKA. Isi dari berita itu adalah tentang “pemerkosaan” patung kemerdekaan tersebut. Atas laporan beberapa orang yang melintas di depan monumen —tanpa sepengetahuan Misdi—pada saat Misdi melakukan “pemerkosaan” itu, Misdi ditangkap dan dibawa ke tahanan atas tuduhan pengrusakan sarana umum. Kepada koran-koran yang mewawancarainya karena tertarik, Misdi hanya mengatakan satu kalimat. Dan kemudian, di koran-koran ada headline seragam yang berbunyi MISDI: NEGERI KITA BELUM MERDEKA!. wawan—eko—yulianto © 2008... 100
x

Log In

or reset password

Reset Password

Enter the email address you signed up with, and we'll send a reset password email to that address

Academia © 2012